Tingkatkan Hasil Belajar dan Kreatifitas Siswa dengan Hypnoteaching

Oleh: Yuhani, S.Pd.SD
Guru SDN 01 Kaliprau, Kec. Ulujami, Kab. Pemalang

TUNTUTAN pendidikan di era globalisasi menjadi tantangan besar bagi guru dalam menyelenggarakan proses pembelajaran. Guru dituntut harus dapat profesional dengan berbekal kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional secara utuh dan menyeluruh. Seorang guru dituntut tidak hanya mampu merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan menganalisis pembelajaran. Tetapi harus bisa memfasilitasi, membimbing serta memotivasi siswa agar mencapai hasil belajar yang diharapkan.

Selamat Idulfitri 2024

Untuk mengatasi permasalahan di atas, salah satunnya dengan menerapkan pembelajaran  dengan metode hypnoteaching. Harapannya, siswa akan termotivasi, berminat dengan senang hati dalam belajar, dan berprestasi.

Menurut Novian Triwida Jaya (dalam Yustisia 2012: 76), hypnoteaching merupakan perpaduan pengajaran yang melibatkan pikiran sadar dan bawah sadar. Yakni teknik dan seni berkomunikasi dalam mengajar dengan jalan memberikan sugesti-sugesti positif. Teknik tersebut dilakukan dengan cara merubah gelombang otak yang menjadikan proses pembelajaran semakin efektif. Dengan kondisi kesiapan mental yang bagus dari para siswa, mereka akan merasa lebih nyaman, fresh, tidak memiliki beban pikiran, dan tertarik mengikuti proses pembelajaran.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Seorang guru tidak sekedar sebagai pengajar, namun juga harus menjadi pendidik yang harus memperhatikan kondisi psikis dan aspek afektif yang dimiliki siswa. Selain itu, juga harus memiliki rasa simpati dan empati dengan menuturkan kata-kata yang baik dan tepat supaya dengan mudah dapat diterima oleh siswa.

Selama dalam proses pembelajaran, seorang guru bertindak sebagai hipnotis. Diibaratkan sebagai magnet yang mampu menarik perhatian dengan kekuatan kepercayaan, iman, pengetahuan dan keyakinan yang dimiliki oleh siswa. Sedangkan siswa merupakan obyek, yakni orang yang terhipnotis. Dalam pembelajaran, guru tidak perlu menidurkan siswa ketika memberikan sugesti. Cukup menggunakan bahasa yang persuasif sebagai alat komunikasi yang sesuai dengan harapan dan bahasa yang mudah dipahami siswa (Ali Akbar Navis, 2013: 129).

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Menurut N, Yustisia (2012), hubungan hipnotis dengan suyet haruslah dibangun sejak awal melalui tahapan-tahapan sebagai berikut. Pertama, niat dan motivasi diri, sehingga akan menumbuhkan motivasi dan komitmen yang tinggi. Kedua, pacing. Yaitu menyamakan posisi, gerak tubuh, bahasa serta gelombang otak siswa. Ketiga, leading. Yakni memimpin atau mengarahkan sesuatu. Ketika siswa merasa nyaman dalam pembelajaran, apapun yang diucapkan atau ditugaskan guru, siswa akan melakukan dengan suka rela dan senang hati.

Keempat, menggunakan kata-kata positif. Misalnya kata “jangan ramai” diganti dengan kata “mohon tenang”. Kelima, berikan reward dan punishment. Dengan reward, siswa akan termotivasi untuk melakukan yang lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan punisment merupakan konsekuensi yang harus diterima siswa ketika melakukan suatu tindakan yang kurang sesuai. Sehingga akan menghindari perilaku-perilaku yang kurang baik dan tidak sesuai dengan norma.  Keenam, modelling, yaitu proses guru memberikan teladan melalui ucapan, perilaku dan perbuatan yang konsisten, sehingga menjadikan guru sebagai sosok panutan di mata siswa.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa metode hypnoteaching dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa. Siswa lebih berkonsentrasi, tenang, senang, nyaman, dan bersemangat dalam belajar sebagai generasi yang tangguh serta kreatif memiliki SDM yang berkualitas. (*)