Meningkatkan Aktivitas Belajar Akuntansi Via Turnamen

Oleh: Dra. Ana Sulistyowati
Guru Akuntansi SMK N 1 Pati

DI era globalisasi ini, perkembangan pengetahuan dan teknologi sangat dipacu oleh tingginya tingkat pendidikan. Suatu bangsa dapat maju apabila masyarakatnya memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Lebih lanjut, proses pembelajaran yang baik akan tercipta apabila proses belajar mengajar yang diselenggarakan di kelas berlangsung efektif dan berguna untuk mencapai pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan (Rasyidin, 2008, h. 35). Untuk mencapai itu semua, guru harus melakukan evaluasi secara berkala guna asesmen dan keberhasilan dalam pembelajaran. Seperti yang dilakukan guru di kelas XII Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL) 2 SMK Negeri 1 Pati pada mata pelajaran Akuntansi materi Obligasi.

Selamat Idulfitri 2024

Aktivitas belajar akuntansi siswa masih rendah. Hal ini ditunjukkan dari 36 siswa, hanya 9 siswa (25%) yang aktif bertanya dan menjawab pertanyaan, dan 9 siswa (25%) yang aktif mencatat. Selain itu, masih terdapat 18 siswa (50%) yang justru melakukan aktivitas lain di luar konteks pembelajaran. Maka dari itu guru membuat asesmen pembelajaran agar siswa lebih kompetitif dan semangat dalam belajar. Awalnya guru hanya menggunakan metode tanya jawab biasa dalam pembelajaran. Lalu guru beralih menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe teams games tournament.

Menurut Isjoni (2013, h. 83), model pembelajaran kooperatif tipe teams games tournament merupakan model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk bermain dalam games tournament akademik. Di mana siswa akan mewakili kelompoknya dan melawan anggota kelompok lain yang memiliki kemampuan akademik relatif sama. Model pembelajaran ini menciptakan kompetensi yang seimbang, sehingga memungkinkan setiap siswa memberikan kontribusi yang maksimal dalam perolehan skor kelompoknya.

Dalam teams games tournament peserta didik memainkan permainan-permainan dengan anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing. Dalam implementasi model pembelajaran kooperatif tipe teams games tournament ini, siswa dibagi menjadi sembilan kelompok, yang setiap kelompok terdiri dari empat siswa. Kegiatan pembelajaran diawali dengan penjelasan oleh guru mengenai langkah-langkah dalam pelaksanaan teams games tournament, kemudian siswa diminta untuk mengerjakan soal pre-test.

Lebih lanjut, siswa akan diminta membentuk sebuah forum dan menempatkan diri di dalam kelompoknya masing-masing. Setiap kelompok, belajar bersama dan mendiskusikan materi yang dipelajari, untuk sumber utama adalah menggunakan modul pembelajaran. Selama kegiatan diskusi berlangsung, siswa boleh menanyakan materi yang belum dipahami, baik kepada teman maupun kepada guru.

Setelah sesi diskusi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pelaksanaan turnamen akademik antar kelompok. Permainan dalam bentuk kuis berupa pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran. Setiap siswa harus berusaha untuk mengumpulkan poin bagi kelompoknya. Tiga kelompok yang memperoleh skor tertinggi berhak untuk mendapatkan hadiah. Sebelum kegiatan pembelajaran ditutup, guru membagikan soal post-test yang akan digunakan untuk mengukur kemampuan siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Nilai dari hasil post-test ini merupakan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran teams games tournament.

Terbukti, dengan menggunakan model pembelajaran teams games tournament, aktivitas belajar akuntansi meningkat. Jumlah siswa yang memperoleh skor aktivitas belajar akuntansi ≥75% dari siklus pre-test ke post-test. Skor rata-rata pre-test sebesar 71.28% menjadi 90.03% pada post-test, atau terjadi peningkatan absolut sebesar 18.75% dan peningkatan relatif sebesar 26.30%. Dipermudah dengan angka, siswa yang memperoleh skor aktivitas belajar Akuntansi ≥75% meningkat dari sebanyak 16 siswa (44%), menjadi 36 siswa (100%) pada post-test, atau meningkat sebesar 56%. (*)