Metode Demonstrasi pada Pembelajaran Wudu

Oleh: Rokhmaniyah,S.Pd.I.
Guru PABP/PAI SD Negeri 02 Wonogiri, Kec. Ampelgading, Kab.Pemalang

PEMBELAJARAN agama yang baik adalah menuju pada pembelajaran inovatif dan kreatif. Dalam mengajar, guru jarang sekali menggunakan satu metode, karena mereka menyadari bahwa semua metode ada kebaikan dan kelemahannya. Namun ada metode yang tepat dan ada yang kurang tepat dipergunakan. Jadi yang dipentingkan oleh guru dalam memilih metode mengajar adalah ketepatannya sebagai alat untuk mencapai tujuan. Penggunaan metode mengajar harus diarahkan pada tumbuhnya aktivitas belajar siswa yang optimal, bukan dominasi aktivitas guru. Metode mengajar bukan tujuan tapi alat untuk mencapai tujuan.

Selamat Idulfitri 2024

Kami Di SD Negeri 02 Wonogiri sebagai seorang guru PAI, di dalam proses belajar mengajar guru harus memiliki strategi. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah harus menguasai teknik penyajian atau biasa disebut metode mengajar. Dengan demikian, metode mengajar adalah strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Guna menarik minat peserta didik supaya lebih semangat, dibutuhkan beberapa metode, strategi dan model pembelajaran yang tepat sasaran serta saling berkaitan. Salah satu metode yang akan dibahas penulis dalam kajian ini adalah metode demonstrasi. Menurut Sanjaya, W (2006: 152), demonstrasi merupakan metode dalam pembelajaran dengan menunjukkan kepada sisiwa tentang proses, situasi, maupun benda tertentu baik asli maupun tiruan.

Pada pembelajaran pendidikan agama Islam, khususnya pada materi wudhu pada kelas II melalui metode demonstrasi dan simulasi, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa berwudu untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan metode demonstrasi merupakan salah satu upaya menarik minat belajar serta daya kreativitas siswa untuk aktif dan mandiri dalam belajar tentang wudu.

Pembelajaran diawali dengan memutarkan sarana belajar multimedia melalui laptop dan LCD untuk menyimak. Kemudian siswa mencatat tayangan video tentang gerakan dan doa sebelum dan sesudah wudu, serta mendengarkan dan mengamati penjelasan guru tentang tata cara wudu yang benar. Siswa secara klasikal, berkelompok dan individu membaca doa sebelum dan sesudah wudu.

Di sekolah penulis, SDN 02 Wonogiri, siswa kelas II berjumlah 16, maka siswa dibuat 4 kelompok yang tiap kelompoknya terdiri dari 4 siswa. Dengan bimbingan dan arahan guru, siswa melakukan praktik wudu secara langsung dengan memperhatikan rukun dan sunahnya. Diawali dengan posisi berdiri membaca basmalah dan niat wudu. Dilanjutkan gerakan mencuci kedua telapak tangan sampai pergelangan tangan, didahului dengan tangan kanan sebanyak tiga kali. Kemudian berkumur-kumur sebanyak tiga kali, sambil membersihkan gigi, dilanjutkan membersihkan lubang hidung sebanyak tiga kali.

Gerakan selanjutnya membasuh muka sebanyak tiga kali, membasuh kedua tangan sampai siku-siku sebanyak tiga kali, didahului tangan kanan lalu tangan kiri. Selanjutnya mengusap kepala dengan tangan yang dibasahi, mengusap telinga kanan dan kiri. Lalu membasuh kedua kaki sampai mata kaki, didahului kaki kanan dan dilanjutkan kaki kiri. Terakhir, membaca doa setelah wudu.

Ketika kelompok satu mempraktikkan wudu, kelompok dua mengamati kesalahan dalam gerakan wudu. Saat kelompok dua mempraktikkan, yang mengamati adalah kelompok tiga. Giliran kelompok tiga yang mempraktikkan, kelompok satu yang mengamati dan mencatat kesalahan-kesalahan. Setelah semua kelompok selesai mempraktikkan, tiap kelompok memaparkan hasil pengamatannya secara bergantian.

Berikutnya, guru menjelaskan tentang hal-hal yang yang belum diketahui siswa dan meluruskan kesalahan pemahaman, serta memberikan penguatan. Dengan metode demontrasi, siswa lebih tertarik dan lebih mudah memahami materi tatacara wudu. Siswa juga dapat melafalkan bacaan doa sebelum dan sesudah wudu dengan benar. Selain itu, juga bisa mempraktikkan wudhu dengan gerakan-gerakan yang benar, serta memperhatikan sunah dan rukun wudu. (*)