Asiknya Metode Smart Game pada Pembelajaran PAI

Oleh: Rokhmaniyah, S.Pd.I.
Guru Mapel PABP/PAI SD Negeri 02 Wonogiri, Kec. Ampelgading, Kab. Pemalang

PENDIDIKAN agama Islam dan budi pekerti (PABP) di SD merupakan mata pelajaran yang sangat penting dalam pembentukan karakter peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya. Oleh karena itu, guru dituntut untuk selalu memberikan materi terbaik bagi anak didik.

Selamat Idulfitri 2024

Guru PAI harus mampu menciptakan model yang terbaru dan inovatif. Salah satu metode yang jarang digunakan dalam pembelajaran PAI adalah metode smart game. Metode ini menyajikan berbagai bentuk permainan. Permainan (games) populer dengan berbagai sebutan, seperti ice breaker berarti pemanasan dan energizer (penyegaran). Hal ini penulis terapkan di SD Negeri 02 Wonogiri, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Pemalang.

Karakteristik games adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (fun), serta serius tapi santai. Permainan digunakan untuk penciptaan suasana yang semula pasif menjadi aktif, kaku menjadi luwes, dan jenuh menjadi riang. Metode ini diarahkan agar tujuan belajar dapat dicapai secara efektif dan efisien dalam suasana gembira. Meskipun membahas hal-hal yang sulit.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Menurut Yudha Kurniawan dalam bukunya “Smart Games for Kids” menyebutkan 35 jenis permainan kecerdasan untuk anak. Yaitu tepuk nama, sebanyak mungkin, mengingat aku, DOR, pulpen dan pensil, menggambar bangun, keluarga burung. Kemudian, menuliskan kekuatan pribadi; menghitung acak, acak gambar, tes tiga menit, cerita berantai, pesan berantai, pijat palu babat, operasi angka berantai. Selanjutnya, memilih bangun, konsentrasi titik, mengurut usia, presentasi kelompok, penjahat dan polisi, gajah, jerapah, dan pohon kelapa, buah apel, tangan kusut. Setelah itu, melewati rintangan kecil, pesan dari bola, cari tempat, sentuhan suara, tebak batu, sesuatu dari sarung, berdiri bersama-sama, gangsing hidup, kata-kata sulit. Lalu mengangkat bersama, arah mata angina, mendengar bunyi, dan menciun bau.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Metode smart game adalah permainan yang dirancang sedemikian rupa. Tujuannya agar siswa menguasai KD tentang mengerti makna iman kepada malaikat-malaikat Allah berdasarkan pengamatan terhadap dirinya dan alam sekitar. Metode permainan yang digunakan adalah permainan tepuk malaikat. Langkah-langkah permainan tepuk malaikat sebagai berikut. Pertama, guru membagikan hand out “tepuk malaikat”. Sebelum pembelajaran dimulai, guru sudah mempersiapkan teks materi berupa hand out tepuk malaikat yang kemudian dibagikan kepada siswa.

Kedua, siswa melakukan permainan tepuk malaikat dengan bimbingan guru. Siswa dibantu oleh guru bersama-sama untuk mempraktikkan permainan tepuk malaikat sesuai perintah pada teks materi yang sudah dibagikan kepada. Ketiga, guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok. Setelah bersama-sama berlatih mempraktikkan permainan tepuk malaikat, kemudian siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil.

Keempat, siswa melakukan permainan tepuk malaikat antar kelompok dengan model tanya jawab. Melalui kelompok kecilnya, siswa melakukan permainan tepuk malaikat antar kelompok dengan model tanya jawab secara bergantian. Kelompok yang satu menyebutkan nama malaikat-malaikat Allah, sedangkan kelompok lainnya menjawab tugas tugasnya secara bergantian.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Kelima, siswa melakukan permainan tepuk malaikat bersama teman sebangku dengan model tanya jawab. Kemudian siswa diberi kesempatan untuk melakukan permainan tepuk malaikat bersama teman sebangku dengan model tanya jawab. Siswa yang satu bertepuk menyebutkan nama malaikat-malaikat secara satu persatu. Sedangkan teman lainnya menjawab setiap tepukan dengan tugas-tugasnya dan juga saling bergantian.

Keenam, refleksi dan kesimpulan. Setelah dilakukan secara berulang-ulang mulai dari permainan dengan kelompok kecil dan permainan dengan teman sebangku, maka guru bersama siswa melakukan refleksi dan kesimpulan dari materi yang sudah disampaikan. Kemudian menanyakan kesulitan apa yang dialaminya untuk diambil perbaikan dalam pembelajaran berikutnya. (*)