Belajar Bangun Ruang Asyik dengan MBR dalam Model PBL

Oleh: Dwi Fitriana
Guru Kelas SD Negeri Purborejo, Kec. Bansari Kab. Temanggung

PEMBELAJARAN matematika di Sekolah Dasar didasarkan pada tahap kognitif peserta didik. Menurut Jean Piaget (Syah, 2014:66) menyatakan perkembangan mental setiap pribadi melewati empat tahap yaitu sensorimotor (0-2 tahun), pra operasional konkret (2-7 tahun), operasional konkret (7-11 tahun), dan operasional formal (11-15 tahun). Peserta didik Sekolah Dasar pada tahap operasional konkret, disini anak mengembangkan konsep menggunakan benda konkret. Peserta didik SD kesulitan jika diajak berpikir langsung secara abstrak dikarenakan taraf berpikir peserta didik masih menggunakan benda konkret untuk memahami konsep matematika.

Selamat Idulfitri 2024

Berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran matematika di Sekolah Dasar, tentu sampai saat ini masih terdapat beberapa permasalahan. Masalah yang sering dialami suatu Sekolah Dasar yaitu rendahnya hasil belajar pada mata pelajaran matematika. Hal ini terbukti bila diadakan ulangan harian per kompetensi dasar selalu hasil belajar matematika di bawah rata-rata mata pelajaran lainnya. Sebagian besar peserta didik belum mencapai ketuntasan belajar pada konsep bangun ruang (nilai masih dibawah KKM). Hal ini menunjukkan fakta bahwa pelajaran matematika dianggap oleh sebagian besar peserta didik sebagai mata pelajaran yang sulit.

Beberapa penyebab rendahnya hasil belajar peserta didik kelas 6 dalam materi mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang adalah: 1) Peserta didik sukar membedakan antara rusuk, sisi, sudut, dan diagonal pada bangun ruang. 2) Guru dalam menjelaskan belum memakai media atau benda konkret, proses pembelajaran berupa transfer materi secara abstrak, sehingga guru kesulitan dalam menjelaskan kepada peserta didik. 3) Peserta didik menganggap matematika sulit, dan peserta didik hanya menghafalkan rumus sehingga kurang paham dengan materi pelajaran matematika, termasuk dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan volume dan luas permukaan bangun ruang.

Menurut Cece Rahmat dalam Zainal Abidin (2004:1) mengatakan bahwa hasil belajar adalah “Penggunaan angka pada hasil tes atau prosedur penilaian sesuai dengan aturan tertentu, atau dengan kata lain untuk mengetahui daya serap peserta didik setelah menguasai materi pelajaran yang telah diberikan”. Darmansyah (2006:13) menyatakan bahwa hasil belajar adalah hasil penilaian terhadap kemampuan peserta didik yang ditentukan dalam bentuk angka. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar adalah hasil penilaian terhadap kemampuan peserta didik setelah menjalani proses pembelajaran.

Arnis Kamar (2002:18) dengan adanya media, fungsi media bangun ruang dalam pembelajaran matematika, peserta didik akan lebih banyak mengikuti pembelajaran matematika dengan gembira, sehingga minatnya dalam mempelajari matematika semakin besar. Peserta didik akan senang, tertarik dan bersikap positif terhadap pembelajaran matematika. Selanjutnya menyajikan konsep abstrak matematika dalam bentuk konkrit, maka peserta didik pada tingkat yang lebih rendah akan lebih mudah memahami dan mengerti. Media dapat membantu daya titik ruang, karena tidak membayangkan bentuk-bentuk geometri terutama bentuk geometri ruang, sehingga dengan melalui gambar dan benda-benda nyata akan terbantu daya pikirnya agar lebih berhasil dalam belajar.

Maka penggunaan MBR (Media Bangun Ruang) dalam pembelajaran matematika dapat membantu guru menjelaskan hal yang bersifat abstrak menjadi konkrit sehingga peserta didik mudah belajar matematika. Namun dalam pelaksanaan pembelajaran, guru hendaknya memilih dan menggunakan model pembelajaran yang sesuai untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat terlibat secara fisik, mental dan sosial dalam pembelajaran. Sejalan dengan pendapat para ahli di atas, penulis akan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) agar pembelajaran lebih menarik.

Pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu rangkaian pendekatan kegiatan belajar yang diharapkan dapat memberdayakan peserta didik untuk menjadi seorang individu yang mandiri dan mampu menghadapi setiap permasalahan dalam hidupnya dikemudian hari. Dalam pelaksanaan pembelajaran peserta didik dituntut terlibat aktif dalam mengikuti proses pembelajaran melalui diskusi kelompok.

Model Problem Based Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang menuntut peserta didik untuk memecahkan masalah yang ada pada peserta didik kelas 6 SD Negeri Purborejo Kec. Bansari Kab. Temanggung. Penggunaan MBR (Media Bangun Ruang) dalam model Problem Based Learning (PBL) mampu mendorong peserta didik untuk mencari tahu, membaca, berpikir kritis, dan menemukan solusi dari pemecahan masalah yang dihadapi. Selain itu, karakteristik peserta didik kelas 6 SD Negeri Purborejo Kec. Bansari Kab. Temanggung cocok diterapkan model tersebut karena langkah pemecahan masalah yang ada pada model Problem Based Learning (PBL) ini sejalan dengan meningkatnya hasil belajar peserta didik. (*)