Index Card Match dalam Pembelajaran IPS

Oleh: Agus Nanang Suryana, S.Pd
Guru Kelas SD Negeri Bango 2 Demak

KEBAHAGIAAN seorang guru apabila peserta didik berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Begitu pula harapan guru kelas 5 di SD Negeri Bango 2 Demak. Namun kenyataannya ketika pembelajaran IPS, nilai yang didapatkan sebagian besar peserta didik masih rendah. Hal ini disebabkan karena motivasi belajar yang rendah serta adanya perbedaan kemampuan setiap peserta didik, ada yang cepat menguasai materi, ada pula peserta didik yang lambat menguasai materi. Selama pembelajaran berlangsung masih banyak peserta didik merasa kebingungan dan merasa pasif, berulang kali penjelasan diberikan namun hanya ada beberapa yang mau menanggapi dan mengajukan pertanyaan dan sebagian anak memang tidak menyukai pelajaran khususnya muatan mapel IPS yang menurut mereka membosankan. Melihat kondisi ini guru berfikir untuk menggunakan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan peserta didik, salah satunya yaitu dengan mengaktifkan peserta didik untuk belajar dengan metode Index Card Match.

Selamat Idulfitri 2024

Index Card Match adalah salah satu model dari Cooperative Learning yaitu “mencari pasangan kartu”. Model ini cukup menyenangkan digunakan untuk mengulangi materi pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya. Dengan menggunakan model ini, terlihat peserta didik belajar dengan senang, antusias sehingga materi yang diberikan terus diingat dan tentunya hasil belajarnya menjadi lebih bagus.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut: Guru membuat potongan-potongan kertas sebanyak jumlah peserta didik yang ada di dalam kelas. Kemudian membaginya menjadi dua bagian yang sama. Pada separuh bagian ditulis pertanyaan tentang materi yang akan diajarkan. Setiap kertas berisi satu pertanyaan. Pada separuh kertas yang lain ditulis jawaban dari pertanyaan yang telah dibuat. Kocoklah semua kertas sehingga akan tercampur antara soal dan jawaban. Setiap peserta didik diberi satu kertas.

Kemudian guru menjelaskan bahwa ini adalah aktivitas yang dilakukan berpasangan. Separuh peserta didik mendapat soal dan separuh peserta didik mendapat jawaban. Mintalah kepada peserta didik untuk menemukan pasangan mereka. Jika sudah menemukan pasangan, maka peserta didik duduk berdekatan dan guru menjelaskan juga bahwa mereka tidak boleh memberitahu materi yang mereka dapatkan kepada teman yang lain. Setelah semua peserta didik menemukan pasangan dan duduk berdekatan, mintalah kepada setiap pasangan secara bergantian untuk membacakan soal yang diperoleh denga keras kepada teman-temannya yang lain. Selanjutnya soal tersebut dijawab oleh pasangannya. Guru mengakhiri proses ini dengan membuat klarifikasi dan kesimpulan.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Kelebihan atau keunggulan metode index card match adalah: 1)Menumbuhkan rasa gembira pada saat kegiatan belajar mengajar. 2)Penyampaian materi menjadi lebih menarik perhatian peserta didik. 3)Dapat menciptakan suasana yang aktif menyenangkan. 4)Dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik sesuai taraf ketuntasan belajar. 5)Penilaian peserta didik dapat dilakukan langsung antara guru dan peserta didik. Sedangkan kekurangan atau kelemahan metode index card match adalah: 1)Peserta didik membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menyelesaikan tugas dan prestasinya. 2)Membutuhkan waktu yang lama bagi guru untuk mempersiapkan. 3)Keterampilan yang memadai dan jiwa yang demokratis dalam diri guru harus dikuasai dalam pengelolaan kelas. 4)Peserta didik dituntut agar dapat bekerja sama dalam menyelesaikan masalah. 5)Kelas menjadi gaduh dan ricuh sehingga dapat mengganggu kelas yang lain.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Setelah pembelajaran dilaksanakan dengan metode kooperatif tipe Index Card Match pada muatan pelajaran IPS di kelas 5 SD Negeri Bango 2 Demak, sudah mengalami peningkatan yang signifikan, atau mencapai nilai diatas KKM. Walaupun pada pelaksanaan kelas menjadi sedikit gaduh tetapi anak-anak sangat senang karena mereka merasa seperti sedang melakukan permainan. Ke depan guru harus mampu mencari cara kreatif untuk mengaktifkan peserta didik sehingga belajar akan lebih menyenangkan. (*)