Bermain dan Belajar di Kelas Melalui Ice Breaking

Oleh: Ani Kusumawati, S.Pd.
Kepala Sekolah SD Negeri 2 Kalitinggar, Kec. Padamara, Kab. Purbalingga

ICE breaking memainkan peran yang sangat signifikan bagi berlangsungnya pembelajaran, proses presentasi, maupun training. Umumnya kegiatan ini dilakukan saat perkenalan oleh kelompok yang anggotanya tidak saling kenal. Yakni agar pada acara perkenalan tidak terlalu kaku atau tegang. Kegiatan ice breaking membuat mereka semua berkumpul dan membaur, dan melakukan sesuatu secara bersama-sama.

Selamat Idulfitri 2024

Selain membuat siswa saling mengenal pribadinya dan bisa mengekspresikan diri , kegiatan ini juga bisa dilakukan memecah kejenuhan siswa. Cocok dilakukan di awal-awal pertemuan, pertengahan pemebelajaran, maupun saat kegiatan-kegiatan bonding. Selain dilakukan di ruangan yang luas, ice breaking juga bisa dilakukan di ruangan yang banyak kursinya.

Kita bisa menyesuaikan ruangan dengan beberapa game, misalnya pertama, kelompok dan berbaris. Peserta hanya perlu membuat barisan berdasarkan aturan yang diminta. Kedua, jika maka. Dalam permaian ini kita hanya membagikan kertas secara merata ke semua peserta, kemudian dibagi menjadi kubu kanan dan kubu kiri. Ketiga, berhitung. Game ini memiliki aturan, masing-masing peserta harus berhitung, misal tiap kelompok hitungan kelipatan empat. Kelima, ikuti apa yang dilihat. Game ini seru karena menguji kosentrasi peserta.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Ada berbagai macam permainan yang bisa digunakan sebagai ice breaking di tengah pelajaran, salah satunya adalah bermain “5 Misi”. Game ini dimainkan oleh minimal enam orang peserta. Permainan dimulai dengan guru menjelaskan lima hal yang harus dijalankan oleh siswa.

Pertama, ketika guru berkata “satu” maka siswa harus berpencar secara individu dan berperan sebagai patung. Kedua, ketika guru berkata “dua”, maka siswa harus berkumpul dua orang (satu pasang) dan memperagakan sedang naik ojek. Dimana siswa yang paling depan bisa meletakkan tangan seperti sedang mengendarai motor. Sedangkan siswa kedua sedang memegang pundak teman di depannya.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Ketiga, ketika guru berkata “tiga” maka siswa tiga siswa harus berkumpul membentuk lampu lalu lintas. Di mana siswa pertama bisa jongkok, siswa kedua bisa berdiri sambil membungkuk, dan siswa ketiga bisa berdiri tegak. Keempat, ketika guru berkata “empat” maka siswa harus berkumpul empat orang membentuk formasi sedang mendayung perahu. Memperagakan seolah-olah mereka sedang naik perahu.

Kelima, ketika guru berkata “lima” maka siswa harus berkumpul lima orang dan membentuk formasi empat orang melingkar sambil jongkok. Sementara satu orang berdiri di tengah sebagai bunga matahari.

Guru bisa mengarang cerita dalam memainkan permainan ini, kemudian menyisipkan bilangan seperti satu, dua, tiga sampai lima. Contoh cerita bisa seperti ini. Pada suatu hari, Rizki sedang berkelana di hutan, kemudian dia melihat ada dua ekor burung yang terbang ke atas pohon.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Ketika guru mengucapkan angka “dua” maka siswa harus membentuk formasi berkumpul dua orang sebagai tukang ojek. Guru bisa mengarang cerita secara kreatif, sehingga siswa bisa menjalankan misi sampai akhir.

Apabila ada siswa yang tidak mendapatkan pasangan, guru bisa membuat kesepakatan untuk memberikan konsekuensi pada siswa tersebut. Yakni dengan bernyanyi di depan kelas untuk melatih kepercayaan diri mereka.

Guru juga sebaiknya melakukan ice breaking agar suasana kelas menjadi lebih menyenangkan, interaktif dan asyik. Melainkan juga bisa memusatkan perhatian siswa di dalam kelas dengan cara yang akrab dan menyenangkan. (*)