Perjanjian Global untuk Tuntaskan Polusi Plastik

ILUSTRASI: Sampah plastik. (JOGLO JATENG/Foto: Pixabay)

JENEWA, SWISS, Joglo Jateng – Sebuah survei daring yang dirilis oleh WWF menunjukkan, dari 20.000 lebih responden di 34 negara, rata-rata tujuh dari 10 orang mendukung perjanjian plastik.

“Ini merupakan kesempatan sekali dalam satu generasi bagi masyarakat global untuk bersatu dan menyepakati aturan serta regulasi yang diperlukan, untuk memerangi polusi plastik di tingkat global,” kata Eirik Lindebjerg, manajer kebijakan plastik global di World Wide Fund for Nature (WWF) saat berbicara tentang seruan WWF untuk perjanjian global guna mengakhiri polusi plastik, dilansir Xinhua, Kamis (24/11).

Perjanjian ini merupakan yang pertama dalam sejarah. Dimana membuat aturan mengikat untuk  dan berlaku di semua negara.

Baca juga:  Mentri ATR/BPN Sosialisasikan Kemudahan Investasi Melalui Kepastian Hukum Hak Atas Tanah

“Ada mandat publik yang kuat, keinginan yang kuat, dari publik dan warga di seluruh dunia untuk benar-benar membuat aturan global tersebut melalui perjanjian ini,” ujar Lindebjerg kepada Xinhua dalam sebuah wawancara via tautan video.

Pernyataan itu disampaikan Lindebjerg saat sesi pertama Komite Negosiasi Antarpemerintah untuk mengembangkan instrumen tentang polusi plastik yang mengikat secara hukum internasional. Termasuk di lingkungan laut yang akan digelar di Uruguay pada 28 November hingga 2 Desember mendatang.

“Sekalipun nantinya tidak ada kesepakatan di Uruguay, itu akan tetap menjadi awal yang sangat penting dari proses selama dua tahun ini. Kami melihat di Nairobi tahun lalu pemerintah telah benar-benar siap dan berkomitmen untuk mengembangkan perjanjian tentang polusi plastik yang mengikat secara hukum,” tegas Lindebjerg.

Baca juga:  Kaya Manfaat, Teh Bunga Telang Jadi Referensi Minuman Herbal

Menurut WWF, negosiasi untuk perjanjian tersebut diharapkan akan selesai pada 2024. Lindebjerg pun mendesak dunia untuk memiliki “sebuah perjanjian dengan kekuatan yang efektif untuk mengakhiri polusi plastik” pada 2025

Meski demikian, WWF dalam siaran persnya memperingatkan bahwa selama periode negosiasi dua tahun saja, jumlah total polusi plastik di lautan diperkirakan akan meningkat sebesar 15 persen.

“Saat ini, lebih dari 2.000 spesies satwa telah mengalami polusi plastik di lingkungan mereka, dan hampir 90 persen spesies yang diteliti diketahui terkena dampak negatif,” WWF memperkirakan.

Baca juga:  Kaya Manfaat, Teh Bunga Telang Jadi Referensi Minuman Herbal

“Kita membutuhkan perjanjian yang menghapus beberapa jenis dan produk plastik yang paling bermasalah dan berbahaya. Kita membutuhkan perjanjian yang menetapkan persyaratan bagi produk yang akan terus kita gunakan sehingga nantinya produk tersebut dirancang untuk digunakan kembali atau didaur ulang, dan kita perlu standar umum global untuk pengelolaan limbah,” terang Lindebjerg.

Selain itu, lanjutnya, penting agar perjanjian tersebut membantu semua negara di dunia untuk menerapkannya. Sehingga diperlukan juga mekanisme dukungan yang kuat,” kata Lindebjerg. (ara/mg2)