Membudayakan Hemat Energi di Sekolah

Oleh: Musyarofah Hari Suci, S.E.
Guru Ekonomi SMA N 1 Wanadadi

INDONESIA merupakan negara besar yang memiliki sumber daya energi yang melimpah. Namun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengingatkan cadangan gas bumi negara kita akan habis sekitar 20 tahun lagi. Dibutuhkan upaya terpadu yang masif dan sungguh-sungguh untuk melakukan penghematan energi, tak terkecuali hingga tingkat satuan pendidikan (sekolah).

Selamat Idulfitri 2024

Energi sangatlah penting untuk kelangsungan hidup manusia. Berbagai langkah terus diupayakan pemerintah untuk mengamankan cadangan migas. Salah satunya dengan memanfaatkan energi terbarukan. Sayangnya, beralih kepada energi terbarukan pun butuh waktu lama dan juga dana yang besar. Harus dibangun berbagai infrastruktur demi mendukung penggunaan energi alternatif tersebut. Sementara penggunaan energi terbarukan masih dilakukan bertahap, pemerintah, masyarakat, hingga instansi seperti sekolah harus sadar untuk melakukan menghematan energi.

Di lingkungan SMA Negeri 1 Wanadadi Kabupaten Banjarnegara, upaya penghematan energi telah dilakukan. Kepala sekolah membuat peraturan sekolah dengan point-point yang bermuara pada penghematan energi air, listrik, bahan bakar, dan berbagai fasilitas sekolah lainnya.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Dengan upaya bersama tersebut, telah terjadi peningkatan pembiasaan siswa, guru, dan staf SMA Negeri 1 Wanadadi dalam memanfaatkan energi yang ada di sekolah. Guru kerap memberikan edukasi tentang cara mengurangi penggunaan listrik di sekolah. Dengan begitu, banyak siswa dapat berkontribusi dalam upaya membuat sekolah mereka sedikit lebih hijau.

Contoh lain peraturan atau kewajiban yang diterapkan sekolah sebagai institusi dan seluruh warga sekolah dalam melakukan penghematan energi. Antara lain pertama, dalam hal hemat energi listrik. Sekolah menggunakan jenis lampu dan peralatan listrik yang hemat energi. Hal Ini juga didukung dengan pembiasaan mematikan atau mengurangi penggunaan listrik di ruangan yang tak digunakan, tidak menyalakan lampu pada pagi dan siang hari (jika suasana masih terang). Kemudian mematikan komputer dalam kondisi shut down apabila tidak akan digunakan dalam dua jam ke depan. Berikutnya, kami juga selaku memastikan sumber listrik di kelas sudah dicabut setelah jam belajar mengajar berakhir.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Kedua, dalam hal hemat energi air. Warga sekolah dihimbau untuk menggunakan air sesuai kebutuhan. Baik cuci tangan, menyiram tanaman, untuk ibadah (wudu) dan air minum. Infrastuktur saluran air selalu diperbaiki untuk menghindari kebocoran. Sekolah juga membangun tandon di beberapa titik untuk penampungan air, serta sumur pompa untuk cadangan jika air PDAM bermasalah. Mengingat, di lingkungan SMA Negeri 1 Wanadadi juga terdapat masjid yang boleh digunakan untuk masyarakat sekitar untuk salah jamaah dan salah Jumat.

Ketiga, dengan menggunakan telepon dan internet sesuai kebutuhan. Tak kalah penting, juga membatasi penggunaan kendaraan dinas hanya untuk keperluan dinas. Bukan sebab adanya kenaikan harga BBM saja, lebih dari itu untuk mengurangi kepadatan lalu lintas dengan penggunaan banyak kendaraan di jalan raya. Kemudian agar Bapak/Ibu guru lebih fokus dalam mengemban amanat mendidik para siswa di sekolah.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Dalam proses membudayakan hemat energi di sekolah, kami selaku pendidik berusaha menumbuhkan rasa tanggung jawab kesadaran diri terhadap lingkungan. Dengan mengambil langkah-langkah kecil untuk mengurangi pemborosan energi di sekolah, dapat sedikit membantu mengurangi pemborosan energi. Apalagi jika seluruh sekolah di Indonesia melakukan hal yang sama. Muara dari upaya tersebut, adalah turut andil dalam mendukung serta mengamankan cadangan energi negara kita. Dengan menghemat energi, juga akan berdampak pada lingkungan yang lebih sehat. (*)