Pembelajaran Somatik Auditory Visual Intelegency dengan Video Pembelajaran

Oleh: Cutiati, S.Pd.SD
Guru SD Negeri 03 Sukorejo, Kec. Ulujami, Kab. Pemalang

PEMBELAJARAN merupakan usaha guru yang telah direncanakan untuk menerangkan materi belajar. Sehingga menimbulkan proses belajar yang baik kepada siswa (Munadi, 2008). Merencanakan suatu proses belajar diperlukan media serta metode yang sesuai, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. Oleh karena itu, untuk menentukan model pembelajaran yang sesuai, perlu memperhatikan beberapa hal. Yakni kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas yang tersedia di sekolah, dan kondisi pengajar itu sendiri (Fathurrohman: 2006).

Selamat Idulfitri 2024

Sesuai dengan prinsip tujuan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar, para siswa diharuskan dapat terampil berbahasa. Yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Ada bermacam-macam metode pembelajaran yang dapat digunakan guru untuk menyampaikan materi.

Berdasarkan wawancara yang telah penulis lakukan menunjukkan bahwa siswa kurang berminat untuk belajar bahasa Indonesia. Hal ini terlihat ketika guru memberikan materi, sebagian besar siswa kurang memperhatikan guru. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing dan berbicara dengan teman tanpa memperhatikan penjelasan guru. Beberapa siswa terfokus pada penjelasan yang diberikan guru, tetapi tidak mau mencoba menemukan sendiri jawaban dari soal-soal yang diberikan.

Baca juga:  Pemkot Yogyakarta Lakukan Berbagai Antisipasi Hadapi Pemudik

Permasalahan lain yang terjadi dalam proses pembelajaran berlangsung adalah perbedaan individual pada siswa dalam menyerap materi pelajaran. Akibatnya, proses belajar mengajar tidak dapat berjalan secara maksimal, sehingga berefek negatif pada hasil belajar. Keadaan ini dibuktikan dengan rendahnya persentase nilai ulangan harian (UH) mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 3 Semester 1 di SD Negeri 03 Sukorejo.

Berdasarkan pernyataan di atas, perlu adanya model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa. Adapun model-model pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif di antaranya CTL (contextual teaching learning), PBL (problem based learning). Kemudian cooperatif learning, inquiry, discovery learning, SAVI (somatic, auditory, visual and intellectual), dan problem solving (Endang, 2010).

Baca juga:  Stok Daging di Bantul Ditangani Komunitas

Semua model pembelajaran tersebut mengarah pada pembelajaran yang tidak lagi menjadikan guru sebagai pusat belajar (teacher centered learning). Karena ada asumsi bahwa pembelajaran yang terlalu didominasi oleh guru dapat menyebabkan peserta didik kurang aktif dan kreatif selama proses pembelajaran. Dari beberapa model tersebut, penulis tertarik untuk menggunakan model pembelajaran SAVI. Karena model pembelajaran ini masih tergolong baru dan penerapan model ini belum maksimal.

Selain penggunaan model pembelajaran yang bervariasi, pemilihan media pembelajaran juga perlu diperhatikan. Karena media merupakan sarana yang membantu proses pembelajaran terutama berkaitan dengan indera pendengaran dan penglihatan. Bahkan, adanya media dapat membuat pemahaman murid lebih. Penggunaannya sangat dianjurkan untuk mempertinggi kualitas pengajaran (Sudjana, Nana dan dkk, 2005). Salah satu media yang dapat menjadi alat bantu dalam menerapkan model pembelajaran SAVI adalah video.

Baca juga:  500 Los dan Kios Pasar Belik Ludes

Berdasarkan pengamatan di SD Negeri 03 Sukorejo, didapatkan hasil belajar siswa setelah penerapan SAVI dengan video pembelajaran lebih tinggi dibandingkan hasil belajar siswa sebelum penerapan metode pembelajaran tersebut. Hal ini dibuktikan dengan nilai ranah kognitif, afektif, dan psikomotor berturut-turut adalah 78,6, 75.8, dan 81,3. Sedangkan hasil belajar kelas tersebut sebelumnya berturut-turut adalah 68,7, 71,9 dan 75,2.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas 3 SD Negeri 03 Sukorejo dengan penerapan media video dalam model pembelajaran SAVI terbilang efektif. Sehingga hasil belajar Bahasa Indonesia menjadi lebih baik, jika dibandingkan dengan sebelum menerapkan media video dalam model pembelajaran SAVI. (*)