Model Jigsaw untuk Kreativitas Belajar IPS Siswa SD

Oleh: Surati, S. Pd.
Guru SDN 03 Blendung, Kec. Ulujami, Kab. Pemalang

KELEMAHAN dalam pembelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) terletak pada rendahnya penguasaan materi oleh siswa, sehingga hasil belajarnya rendah. Remy (1990) bependapat bahwa tujuan mempelajari IPS adalah untuk menjadikan seseorang menjadi warga negara yang baik.

Pada dasarnya ada beberapa model yang dapat digunakan oleh guru dalam pembelajaran IPS di SDN 03 Blendung, salah satunya dengan menggunakan model Jigsaw. Yakni suatu tipe pembelajaran yang terdiri dari beberapa anggota dalam suatu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar. Kemudian mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya.

Jika dikaitkan dengan pembelajaran IPS, model pembelajaran Jigsaw sangat tepat digunakan, karena dapat menerapkan konsep-konsep Pendidikan IPS di kehidupan sehari-hari. Prosesnya dilakukan dengan melatih, melakukan pengamatan, percobaan, diskusi, dan mengambil kesimpulan dari kegiatan tersebut. Dengan demikian, siswa dapat menemukan, membuktikan, merealisasikan dan mengaplikasikan suatu konsep dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas. Kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins (Trianto 2010 :73).

Strategi Jigsaw merupakan teknik pembelajaran kooperatif. Di mana siswa memiliki tanggung jawab lebih besar dalam melaksanakan pembelajaran. Sedangkan guru di sini hanya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Tujuan dari Jigsaw ini adalah mengembangkan kerja tim, ketrampilan belajar kooperatif. Berikutnya menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh apabila mereka mencoba untuk mempelajari semua materi sendirian.

Pada strategi pembelajaran Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu. Kemudian menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Menurut Miftahul (2011:120), langkah-langkah dalam penggunaan strategi pembelajaran Jigsaw adalah sebagai berikut. Pertama, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dalam satu kelas. Setiap kelompok terdiri dari empat hingga lima siswa dengan kemampuan yang berbeda. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa. Sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

Kedua, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Ketiga, semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli. Dalam kelompok tersebut, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama. Lalu menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Misal suatu kelas dengan jumlah sembilan siswa dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya. Yakni terdiri dari empat bagian materi pembelajaran. Maka, dari sembilan siswa, akan terdapat dua kelompok asal yang terdiri dari empat siswa dan dua kelompok ahli yang beranggotakan lima siswa.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Keempat, setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal, dan memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Kelima, setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok. Atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan. Ini dilakukan agar guru dapat menyampaikan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan. (*)