TGT sebagai Strategi Meningkatkan Keaktifan Pembelajaran Pendidikan Jasmani

Oleh: Dwicaksono Subagyo, S.Pd.
Guru SD N 1 Karangsentul, Kec. Padamara, Kab. Purbalingga

PENDIDIKAN merupakan salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Program pendidikan tidak hanya menekankan pada aspek pengetahuan (cognitive). Tetapi menekankan pada pembinaan sikap dan pengembangan keterampilan peserta didik. Pendidikan jasmani merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diselenggarakan di sekolah-sekolah, tidak terkecuali pada jenjang sekolah dasar (SD).

Selamat Idulfitri 2024

Pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani pada jenjang SD menitikberatkan kepada aktivitas gerak fisik sebagai sarana/media dalam mendidik peserta didik. Selain itu, memerlukan metode yang menyenangkan, sehingga peserta didik akan merasa senang dalam mengikuti pembelajaran.

Menurut Hamdani (2010), pembelajaran kooperatif  tipe team games tournament (TGT) adalah  salah  satu  tipe  atau  model  pembelajaran  kooperatif  yang  mudah  diterapkan. Yakni melibatkan aktivitas seluruh  peserta didik  tanpa  ada  perbedaan  status. Kemudian melibatkan  peran  peserta didik  sebagai  tutor sebaya,  dan  mengandung  unsur  permainan  dan reinforcement.

Proses  pembelajaran  berlangsung  dalam kelompok-kelompok  kecil  dengan  fasilitator  teman  sejawat  yang  dapat  membuat  peserta didik  aktif, karena menggunakan sistem game. Pembelajaran TGT menuntut peserta didik aktif dalam pembelajaran baik secara fisik, mental maupun emosional guna mencapai hasil belajar yang optimal.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TGT ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Karangsentul pada materi sepak bola. Pembelajaran dilaksanakan dengan guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok berdasarkan kemampuan peserta didik yang heterogen. Hal ini bertujuan agar peserta didik yang lebih memahami materi dapat menjadi fasilitator dan tutor sebaya.

Setelah guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok, guru akan mengarahkan siswa untuk dapat berlatih dengan teman sekelompoknya sebelum pelaksanakan TGT. Peserta didik yang memiliki kemampuan lebih akan menjadi tutor sebaya dan memfasilitasi temannya dalam pelaksanaan latihan dikelompoknya. Dengan begitu, akan terjalin kerjasama dan rasa gotong royong dalam pelaksanaannya.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Setelah proses latihan dirasa cukup, guru akan mengarahkan peserta didik melaksanakan pengimplementasian latihannya dalam TGT pada permainan sepak bola. Setelah pelaksanaan, guru akan memberikan apresiasi kepada semua tim yang sudah mau bertanding pada permainan sepak bola. Selanjutnya kelompok yang menang akan diberikan apresiasi lebih berupa reward. Pemberian reward ini betujuan agar memotivasi peserta didik yang belum menjadi pemenang dalam pelaksanaan TGT pada permainan sepak bola. Yakni agar lebih serius dan giat dalam mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani disetiap materinya.

Pembelajaran pendidikan jasmani materi sepak bola di SD Negeri 1 Karangsentul menggunakan model ini dapat meningkatkan keaktifan peserta didik. Peserta didik merasa senang dan tidak terbebani dalam pelaksanaannya. Selain itu, pembelajaran TGT ini memiliki kelebihan di antaranya, melatih peserta didik mengungkap atau menyampaikan gagasan/idenya.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Kemudian melatih siswa   untuk    menghargai    pendapat    atau    gagasan    orang    lain, menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial. Lalu melatih peserta didik untuk mampu mengaktualisasikan dan mengoptimalkan dirinya menghadapi perubahan yang terjadi. Berikutya, melatih anak agar dapat mengembangkan potensi  individu  dan kreatifitas, serta bertanggung jawab.

Guru hendaknya selalu berinovasi dalam menentukan model pembelajaran yang dapat membuat peserta didik senang. Yaitu dengan menyesuaikannya dengan karakteristik dan kemampuan para siswa, sehingga mereka tidak merasa terbebani dalam mengikuti pembelajaran.  Salah satunya adalah TGT dalam meningkatkan keaktifan peserta didik pada pembelajaran pendidikan jasmani. (*)