Membiasakan Budaya Literasi pada Anak-anak

Oleh: Murinah, S.Pd.SD.
Guru SDN 01 Jebed, Kec.Taman, Kab. Pemalang

LITERASI lazim dipahami oleh masyarakat Indonesia hanya terbatas pada kegiatan membaca. Padahal, cakupan literasi amat luas. Meminjam istilah Elizabeth Sulzby (1986), literasi dapat dipahami sebagai kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi. Jadi, ada kelindan erat antara proses menerima dan memberikan informasi.

Selamat Idulfitri 2024

Menepuk pundak, membisikkan literasi ke telinga anak-anak adalah sebuah contoh sederhana, bagaimana informasi disampaikan lewat media yang begitu dekat.  Menurut Permendiknas No. 22 tahun 2006 dalam Depdiknas (2008: 106), standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik. Yakni menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia.

Menilik lebih jauh regulasi di atas, penguasaan siswa terhadap kemampuan membaca dan menulis melalui media bahasa menjadi sangat vital. Perlu adanya beberapa terobosan sederhana yang mudah sekaligus murah untuk dilakukan. Pertama, dapat dilakukan dengan meluangkan waktu untuk membaca. Memulai dan mulai konsisten terhadap bacaan adalah hal yang tidak mudah. Guru memulai dan meyakinkan bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan. Kemudian, menawarkan dunia akan dalam genggaman jika mereka mau membaca.

Kedua, donasi buku. Cara ini merupakan salah satu jalan paling realistis untuk mendapatkan buku. Buku yang ramah anak bisa diajukan kepada lembaga yang memiliki otoritas pustaka seperti Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dan badan bahasa. Dengan mengajukan proposal akan kebutuhan buku, bukan tidak mungkin pustaka yang ramah anak di sekolah dapat dibuat untuk kemudian di rawat. upaya tersebut juga dapat memperluas persebaran buku di tengah masyarakat.

Ketiga, kolaborasi komunitas dan pendisiplinan sebagai pungkasan. Hal selanjutnya yang perlu menjadi perhatian adalah adanya kolaborasi dengan komunitas di kota-kota yang memiliki kegiatan yang lebih variatif. ketika siswa dan anak-anak sudah disadarkan betapa mengasyikannya kegiatan membaca di sekolah, maka akhir pekan adalah saat yang tepat untuk mengembangkan potensi lain dalam literasi.

Anak-anak dapat diajak bermain sambal belajar. Sebagai contoh sederhana, anak-anak bisa diajak menggambar dan melakukan permainan tradisional. Sambil tetap dipahamkan nilai-nilai di balik kegiatan tersebut. Hal ini akan menjadi sarana lain untuk menerima ilmu pengetahuan.

Pada tahap lanjut, anak-anak juga dapat berdiskusi dengan sesamanya guna mengembangkan nalar kritis serta budaya bertanya. Dengan terus bertanya dan menjawab, akses informasi akan berputar di antara mereka. Dari sini pula, tugas guru ketika di sekolah akan lebih ringan sebab mental anak-anak untuk berdiskusi sudah terasah.

Bagian lain yang tak kalah pentingnya adalah soal pendisiplinan. Pada bagian ini, anak-anak akan secara mandiri memiliki kesadaran untuk membaca dan terus membaca, sebab didorong oleh rasa penasarannya. Guru, sebagai fasilitator, hanya bertugas memandu anak-anak menemukan dan mempelajari hal-hal yang mereka sukai melalui kegiatan membaca buku secara sederhana.

Hal ini bisa diterapkan dengan mewajibkan kegiatan membaca buku yang disukai setiap 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Jika hari dimulai dengan menuruti rasa penasaran anak-anak, maka proses transfer ilmu pengetahuan akan lebih mudah dilakukan. Inilah mengapa guru sekaligus orang tua penting untuk terus menepuk pundak, kemudian membisiki literasi ke telinga anak-anak. (*)