Opini  

Kesederhanaan vs Kemewahan

Oleh: Riemas Ginong Pratidina
Alumni Filsafat UGM

PADA 14 Oktober 2022 lalu, Presiden Jokowi mengumpulkan seluruh petinggi Polri se-Indonesia di Istana Negara, Jakarta. Presiden menginstruksikan lima hal penting, salah satunya mengurangi gaya hidup mewah demi menghindari kecemburuan sosial ekonomi di masyarakat.

Selamat Idulfitri 2024

Salahkah Mewah?

Bagi saya secara etis sah saja ketika seorang pejabat menunjukkan kepemilikan barang-barang mewahnya. Selama pejabat tadi mampu melakukan pembuktian terbalik di KPK bahwa harta dan aset tersebut bukan berasal dari cara-cara yang dilarang konstitusi. Kita tidak bisa satu pihak buru-buru melakukan judgement ketika seorang pejabat gemar pamer harta, lantas dia pasti korupsi. Bisa saja harta dan asetnya berasal dari warisan atau memang mempunyai segudang bisnis.

Jika dianalisis, nilai “kesederhanaan” merupakan hasil dari konstruksi sosial, layaknya nilai-nilai lain seperti berhemat, misalnya. Kesederhanaan merupakan ranah privat. Bukan publik. Ketika ia dilarang untuk dengan alasan publik karena menimbulkan prasangka negatif di masyarakat, ia bisa saja mengafirmasi sikap tersebut. Karena murni untuk menikmati jerih payah yang telah dilaluinya untuk mencapai tataran ekonomi tertentu sehingga ia bisa seperti itu.

Seperti halnya pertarungan moral dalam otak manusia, fenomena kesederhanaan lebih sering muncul ketika orang tersebut mempunyai riwayat bermewah-mewahan. Sampai ia berada di titik kebosanan, barulah kesederhanaan muncul. Ini biasanya muncul dari fakta sosial seorang tersebut dulunya berada di ekonomi kelas bawah lalu beranjak ke ekonomi kelas atas. Atau ada seseorang dengan ekonomi kelas atas yang memang sepanjang hidupnya sederhana, sebab didikan dari orang tuanya. Artinya sikap kesederhanaan muncul secara emosional, dan bukan lagi lewat pertarungan egoistik versus altruistik.

Justru sikap ini yang oleh para politisi dikonstruksikan untuk dijadikan variabel dalam mendulang suara elektoral. Saya sebut ini kesederhanaan artifisial yang hanya muncul dalam periode tertentu, lima tahun sekali. Dengan bersikap sederhana, ajaibnya memang mampu menarik minat banyak orang sehinga mempunyai alasan untuk mendukung kandidat tertentu. Dalam beberapa kebudayaan, kesederhanaan malah bukan menjadi nilai yang utama (virtue ethics).

Masyarakat memandang boleh saja seseorang bergaya hidup mewah, selama orang tersebut mampu mengimbanginya secara sosial. Bergaya hidup mewah, namun di sisi lain sangat gemar bersedekah justru menjadi nilai yang lebih utama. Nilai ini akan berbeda lagi ketika berhadapan dengan para pelaku usaha. Bagi kelompok ini, orang yang sukses berbisnis sering diukur dengan gaya hidup mewahnya. Sebab justru mampu merangsang motivasi dan gairah bisnis bagi mereka pelaku bisnis yang levelnya masih menengah bawah. Tampilan mewah juga menjadi satu trik untuk meyakinkan klien dalam menaikkan tarif jasa yang kita tawarkan, minimal lebih meyakinkan klien tersebut.

Pilihan Moral

Pada intinya, sikap atau tindakan manusia adalah suatu pilihan moral. Meski dilihat dari sudut pandang deontologis pun, sifat imperatif ini muncul dari dalam manusia itu sendiri, bukan dari luar. Jika datangnya dari luar, itu bukan sikap moral, namun paksaan, dan tentu akan berhadapan dengan nilai lain yakni hak asasi. Bicara moral pun tidak bisa dilepaskan dari dialektikanya dengan nilai-nilai yang berkembang secara sosial-budaya.

Nilai ini juga tidak pernah bisa berlaku secara universal, namun parsial. Asas-asas moral kini bukan berdasarkan benar-salah, tapi konsensus suatu kelompok masyarakat. Evolusi dari pain and reward adalah yang benar itu nyaman dan membahagiakan, dan yang salah adalah menyebabkan kesakitan. Untuk mencapai kebijaksanaan moral, kuncinya adalah pertimbangan-pertimbangan etis harus selalu dilibatkan dalam setiap tindakan. Tidak terkecuali kegemaran pamer tadi, atau memilih kesederhanaan. Apalagi di era digital seperti sekarang ini, mau dikemas seperti apapun, masyarakat telah bisa membedakan mana sederhana yang tulus ataupun yang palsu. (*)