Meningkatkan Kreativitas Belajar IPA dengan Teknik Viakin

Oleh: Dra. Ina Krisnawati
Guru IPA SMP N 1 Padamara Purbalingga

DALAM rangka meningkatkan keberhasilan belajar siswa diantaranya dapat dilakukan melalui upaya memperbaiki proses pembelajaran. Belajar pada hakikatnya dilakukan melalui berbagai aktivitas fisik maupun mental untuk mencapai sesuatu hasil belajar sesuai dengan tujuan. Belajar akan memperoleh hasil lebih baik jika ia telah matang melakukan sesuatu. Proses dan hasil belajar tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi memerlukan waktu, cara, dan metode pembelajaran. Karena cara belajar seringkali bersifat individual atau bersifat kelompok.

Selamat Idulfitri 2024

Adanya beberapa fakta di atas, kalau dibiarkan terus menjadikan siswa kurang memahami suatu materi atau kompetensi dasar dari materi yang dipelajari. Untuk itu, guru dituntut untuk melakukan introspeksi dan perubahan-perubahan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Di antaranya dengan mencoba menerapkan metode dan teknik yang sesuai dengan tuntutan materi dan karakteristik individual siswa. Seperti penerapan teknik viakin. Karena dengan metode dan teknik yang tepat akan  dapat meningkatkan proses dan pencapaian hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan.

Dalam interaksi belajar mengajar, siswa adalah subjek yang akan mencapai tujuan pembelajaran dalam bentuk  hasil belajar. Secara umum, belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan. Jadi perubahan perilaku adalah hasil belajar. Artinya, seseorang dikatakan telah belajar, jika ia dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan sebelumnya (Sumiati, 2008: 4).

Utami Munandar dalam Asrori (2008: 62) mendefinisikan kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan dan orisinalitas dalam berpikir. Kreativitas yang ada pada individu digunakan untuk menghadapi berbagai permasalahan yang ada ketika berinteraksi dengan lingkungannya. Kemudian mencari berbagai alternatif pemecahannya sehingga dapat tercapai penyesuaian  diri secara kuat.

Prinsip yang mendasari penilaian hasil belajar yaitu untuk memberi harapan bagi siswa dan guru untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Kualitas dalam arti siswa menjadi pembelajar yang efektif dan guru menjadi motivator yang baik. Dalam kaitan dengan itu, guru dan pembelajar dapat menjadikan informasi hasil penilaian sebagai dasar dalam menentukan langkah-langkah pemecahan masalah. Sehingga mereka dapat memperbaiki dan meningkatkan belajarnya (Rasyid, 2008 : 67).

Kebutuhan utama cara belajar visual adalah kemampuan menyerap informasi melalui mata (penglihatan). Siswa sangat membutuhkan kesempatan membaca, mengamati langsung, menonton, atau menyaksikan apa yang sedang dipelajari. Kemampuan guru membuat peta, konsep, grafik, gambar, dan memvisualkan pengajaran akan sangat membantu siswa untuk cepat menangkap maksud pengajaran yang disampaikan guru.

Kebutuhan utama cara belajar auditorial adalah kemampuan menyerap informasi melalui telinga (pendengaran). Daya ingat mereka tergantung pada apa yang didengar. Mereka sangat membutuhkan suara, baik saat membaca, menonton, maupun saat melihat apapun yang sedang mereka pelajari. Kemampuan guru untuk mengajar dengan teknik kelompok kerja, dan penggunaan sesi komunikasi dua arah  akan membantu mereka untuk lebih cerdas memahami pelajaran.

Mengajar dengan teknik kinestetik adalah teknik guru dalam mengajar dengan menggunakan media atau alat yang membantu  siswa-siswi kinestetik. Untuk kebutuhan  siswa kinestetik, biarkan mereka membaca sambil santai, berjalan, mencoba menghayati, menyentuh, atau menggunakan alat-alat peraga. Bantulah mereka dengan efektivitas kendali terhadap emosi mereka (Amir Tengku Ramly, 2006: 55).

Tindakan kedua yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menerapkan teknik viakin dalam proses pembelajaran secara kelompok modalitas. Kelebihannya adalah pembelajaran lebih bersifat konstruktivistis. Oleh karena itu nuansa konstruktivisme dalam pembelajaran relatif kuat. Pembelajaran berupaya memadukan, menyinergikan dan mengolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan sebagai konteks pembelajaran. Berdasarkan data hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa teknik  viakin dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar IPA. (*)