Implementasi Pembelajaran Diferensiasi

Oleh: Setiyoningsih, S.Pd
Guru SD N Kebonsari 1, Kec. Dempet, Kab. Demak

PEMBELAJARAN berdiferensiasi adalah usaha menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid (Tomlinson. 2001:45). Pembelajaran berdiferensiasi bukan berarti guru harus mengajar dengan 20 cara yang berbeda untuk mengajar 20 murid. Bukan juga membeda-bedakan murid. Akan tetapi pembelajaran berdiferensiasi lebih kepada serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat guru dengan berorientasi kebutuhan murid.

Selamat Idulfitri 2024

Selama ini, pembelajaran masih mengutamakan kemauan guru. Tanpa memperhatikan kebutuhan belajar murid yang terdiri dari tiga aspek. Yaitu kesiapan belajar (readiness) murid, minat murid dan profil belajar murid. Pembelajaran di kelas harus memperhatikan perilaku anak ke diri sendiri, orang lain, lingkungan, serta sosial emosional.

Sedangkan pembelajaran sosial emosional merupakan proses mengembangkan keterampilan, sikap, nilai yang diperlukan memperoleh kompetensi sosial, emosional. Yakni sebagai modal peserta didik dalam berinteraksi. Kompetensi sosial emosional (KSE) yaitu  kesadaran diri (mengenal emosi), pengelolaan diri (mengelola emosi dan fokus). Kemudian kesadaran sosial (empatik), keterampilan berhubungan sosial atau daya lenting (resiliensi), dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional, pendidik harus melakukan pemetaan kebutuhan belajar murid. Yaitu dengan merancang strategi pembelajaran dengan memperhatikan ketiga aspek kebutuhan belajar dan strategi belajar pembelajaran berdiferensiasi. Seperti diferensiasi konten, proses, dan produk untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan.

Penerapan pembelajaran berdiferensiasi dengan kompetensi sosial emosional pada pembelajaran IPA dan Bahasa Indonesia di kelas VI SD Negeri Kebonsari 1 dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning. Yakni pada materi cara adaptasi tumbuhan dan 5W1H. Dalam pembelajaran ini, peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok.

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan pertama, pembukaan. Peserta didik yang mendapat giliran memimpin do’a, mengucapkan salam dan melakukan tepuk belajar (Kompetensi Sosial Emosional/KSE – pengelolaan diri – mengelola emosi dan fokus).  Kegiatan inti yang meliputi pemberian rangsangan, peserta didik menyimak materi dari link Youtube (anak visual dan auditori), dan peserta didik bergabung dalam kelompoknya.

Kedua, identifikasi masalah. Peserta didik diberikan kesempatan bertanya terkait permasalahan yang dihadapi kelompoknya. Kemudian, proses pengumpulan data. Siswa bekerjasama sama dalam kelompok (KSE – kesadaran sosial & keterampilan berelasi). Selanjutnya, pengolahan informasi. Peserta didik secara kolaboratif dalam kelompoknya mengolah data hasil. Sebelum melakukan presentasi, mereka melakukan ice breaking yang dipandu guru. Berikutnya, pembuktian dengan melakukan presentasi hasil kasus kelompoknya. Terakhir, generalisasi. Yakni peserta didik lain dan guru memberikan tanggapan terhadap presentasi.

Ketiga, kegiatan penutup. Guru melakukan refleksi dan mengakhiri kegiatan pembelajaran (KSE – pengelolaan diri – mengelola emosi dan fokus). Tantangan melaksanakan pembelajaran ini adalah murid belum terbiasa dengan teknik PSE yang diterapkan, sehingga harus dilakukan berulang. Sedangkan keberhasilannya tujuan pembelajaran yang dirancang sesuai dengan kebutuhan murid. Dengan begitu, murid tidak merasa bosan serta lebih antusias belajar.

Penerapan pembelajaran berdiferensiasi dan penerapan kompetensi sosial emosional sangat sesuai dengan merdeka belajar yang berpihak pada murid. Pemetaan kebutuhan belajar murid membantu kita dalam menilai dan membantu murid menemukan jati diri mereka. Yakni sesuai keinginan belajar dan dapat memberikan kemerdekaan dalam pembelajaran murid. Dengan kata lain, pembelajaran sosial dan emosional menyediakan lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran berdiferensiasi. Sehingga kebutuhan belajar murid terpenuhi. Lingkungan belajar yang positif dan terpenuhinya kebutuhan belajar murid akan memaksimalkan pencapaian kesejahteraan psikologis murid. Saat kompetensi sosial dan emosional murid berkembang, maka aspek akademik mereka pun berkembang. (*)