Memaksimalkan Potensi Murid melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Oleh: Titik Idawati, S.Pd., M.Pd
SD N Rejosari 2, Kec. Mijen, Kab. Demak

PENDIDIKAN adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak. Agar mereka sebagai manusia maupun anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Tugas kita sebagai guru adalah menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya masing-masing (Ki Hajar Dewantara).

Setiap murid yang duduk di kelas kita adalah individu yang unik, dan ini seharusnya menjadi dasar dari praktik-praktik pembelajaran yang kita lakukan. Kemudian menjadi kerangka acuan saat mengevaluasi praktik-praktik pembelajaran kita. Mulailah dengan mengingat satu persatu murid di kelas Anda untuk bisa mengakomodir semua kebutuhan mereka yang bebeda-beda tersebut. Oleh sebab itu guru harus menerapkan pembelajaran berdiferensiasi.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya,

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Kedua, bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda. Ketiga, bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang” murid untuk belajar.

Keempat, manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, dan metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif. Kelima, penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan. Yakni untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus. Di mana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B, atau si C dalam waktu yang bersamaan.

Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid. Paling tidak berdasarkan tiga aspek, yakni kesiapan belajar (readiness), minat, dan profil belajar murid.

Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi, konsep, atau keterampilan baru. Perlu diingat bahwa kesiapan belajar murid bukanlah tentang tingkat intelektualitas (IQ). Hal ini lebih kepada informasi tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki murid saat ini, sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan diajarkan.

Minat merupakan suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri. Dengan menjaga minat murid tetap tinggi, diharapkan dapat meningkatkan kinerja murid.   Pembelajaran berbasis minat seharusnya tidak hanya dapat menarik dan memperluas minat murid yang sudah ada, tetapi juga dapat membantu mereka menemukan minat baru.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Profil Belajar mengacu pada cara-cara bagaimana kita sebagai individu paling baik belajar. Tujuan dari mengidentifikasi atau memetakan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid agar bisa belajar secara natural dan efisien. Kita tahu setiap anak memiliki profil belajar sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat penting agar guru dapat memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka. Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor. Di antaranya preferensi terhadap lingkungan belajar, pengaruh budaya, gaya belajar (visual, auditori, kinestetik), ataupun berdasarkan kecerdasan majemuk. (*)