Melangkah Menjadi Sekolah Biru dengan Manajemen Partisipatif

Oleh: Teguh Supriyanto, S.Pd.SD
Kepala SD 2 Papringan, Kec. Kaliwungu, Kab. Kudus

MEMPERHATIKAN kondisi awal saat pertama kali ditugaskan di SD 2 Papringan, penulis memperoleh gambaran, bahwa secara umum sekolah ini masih perlu banyak pembenahan di segala lini. Dari hasil identifikasi awal permasalahan yang ada, maka langkah awal yang menjadi proiritas adalah membangun karakter siswa dengan mengangkat brand sekolah berkarakter, inovatif, religious, dan unggul (BIRU). Yakni sebagai manifestasi dari visi misi SD 2 Papringan.

Selamat Idulfitri 2024

Gerakan sekolah buru merupakan akronim dari cita cita sekolah untuk mewujudkan generasi yang berkarakter, inovatif, religius, dan unggul. Upaya peningkatan mutu dalam proses pembelajaran dilakukan dengan pembinaan guru secara terus menerus. Terutama terkait dengan empat kompetensi sesuai tuntutan pendidikan abad 21 yang dikenal dengan 4C. Meliputi critical thinking (berpikir kritis), collaboration (kerja sama), communication (komunikasi), dan creativity (kreativitas). Dalam hal ini inovasi dan leadership (kepemimpinan) seorang kepala sekolah sangat diharapkan. Yakni agar mampu menciptakan suasana dan ekosistem yang baik di lingkungan sekolah dan sekitarnya.

Baca juga:  Bank Jateng Gelar Pasar Sayuran Gratis Sepanjang Ramadan

Dalam upaya   peningkatan   mutu   dan   prestasi, penulis dituntut untuk memiliki kreativitas dan inovasi. Hal tersebut diharapkan bisa menjadikan sekolah bagus, maju dan berprestasi. Yakni dengan mengusung program Partisipatif, Pembiasaan, Tauladan dan Kerjasama (P2TK), dalam upaya peningkatan mutu, dan penguatan pendidikan karakter.

Memperhatikan tujuan yang ingin dicapai di SD 2 Papringan, maka disusunlah brand yang kira-kira pas. Setelah melakukan analisis strengths, weaknesses, opportunities, dan threats (SWOT) terhadap tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah, penulis bersama jajaran guru membranding sekolah agar mudah dikenal masyarakat. Yakni dengan dengan brand sekolah BIRU.

SD 2 Papringan Kecamatan Kaliwungu memiliki tujuan, di antaranya menyiapkan generasi unggul yang memiliki potensi dibidang IMTAQ dan IPTEK. Kemudian membentuk sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif sesuai dengan perkembangan zaman, serta membangun citra sekolah sebagai mitra terpercaya di masyarakat. Lalu menuju sekolah dasar bersih dan sehat, dan mewujudkan sekolah berbudaya lingkungan (Adiwiyata).

Baca juga:  Jalan-jalan di Jateng Siap Dilintasi Pemudik Lebaran 2024

Menggunakan brand Sekolah BIRU, SD 2 Papringan Kecamatan Kaliwungu berusaha memperkenalkan keunggulan maupun kekhasan yang dimilikinya proses pembinaan siswanya. Jika diuraikan secara mendetil, makna dari brand biru pada SD 2 Papringan Kecamatan Kaliwungu adalah sebagai berikut. B mewakili kata berkarakter. Berpedoman pada Perpres Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, pendidikan karakter meliputi lima karakter. Yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas. Kemudian I mewakili kata inovatif. R mewakili kata Religious. U mewakili kata unggul.

Brand sekolah yang merupakan upaya mewujudkan agar siswanya kelak dapat menjadi generasi unggul yang akan mampu bersaing dalam masyarakat. Terkait tujuan tersebut, maka guru menerapkan sistem pembinaan dengan istilah Asah Berlian. Kegiatan ini adalah upaya peningkatan prestasi peserta didik, dengan usaha mengasah dan membina kemampuan minat dan bakat yang mereka miliki.

Baca juga:  Bantul Dipersiapkan Jadi Percontohan Kabupaten Antikorupsi

Dalam upaya memperkenalkan brand sekolah, ada banyak cara yang ditempuh. Di antaranya melalui pengenalan oleh guru di kelas, rapat wali murid maupun komite sekolah, dan pada kegiatan pagi dilapangan. Sehingga peserta didik menjadi akrab dengan brand tersebut. Merekalah yang mengenalkannya kepada orang tua dan masyarakat sekitarnya. Pelaksanaan/manajemen P2TK juga dilakukan, sebagai langkah yang dirasa tepat dalam upaya pembangunan karakter dan pembinaan prestasi siswa. Agar diketahui masyarakat luas, visi misi dan brand sekolah, diperkenalkan juga melalui tulisan di gerbang sekolah. (*)