Lorong Literasi untuk Manifestasi GLS

Oleh: Ahmad Aliek Mochtar, S.Pd.SD
Kepala SD 3 Jati Wetan, Kec. Jati, Kab. Kudus

LITERASI adalah salah satu kemampuan penting dan utama bagi peserta didik. Pentingnya literasi pada abad ke-21 sekarang bagi peserta didik di sekolah terlihat dari dukungan pemerintah dengan mulai diwujudkannya Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS di sekolah dasar (SD) dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan masing-masing sekolah. Kesiapan ini mencakup kesiapan kapasitas fisik sekolah dalam hal ini sarana dan prasarana yang tersedia. Kemudian kesiapan warga sekolah (peserta didik, tenaga guru atau pendidik, orang tua dan komponen masyarakat lain). Lalu kesiapan sistem pendukung lainnya (partisipasi publik, dukungan kelembagaan dan kebijakan yang relevan). (Sambodo. 2019: 20).

Selamat Idulfitri 2024

GLS adalah kemampuan untuk mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai kegiatan. Termasuk membaca, melihat, mendengarkan, menulis, dan/atau berbicara. Berdasarkan kebijakan atau peraturan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 23tahun 2015 tentang tumbuhnya karakter, implikasi gerakan literasi yang harus dilaksanakan di setiap sekolah disebut dengan gerakan literasi sekolah (Faizah. 2016:iii).

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

GLS memperkuat gerakan pengembangan karakter yang sekarang dikenal sebagai Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Masalah utama dan situasi dalam kepemimpinan yang penulis hadapi saat ini di sekolah, salah satunya adalah kemampuan peserta didik dalam hal membaca.

Penulis mengimplementasikan isu atau masalah yang dihadapi disekolah tersebut dalam bentuk Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Yaitu dengan mengoptimalkan koridor kelas atau pengaturan koridor setiap lantai. Dimana lorong kelas yang sebelumnya berisi lemari guru yang berantakan dapat digunakan menjadi lorong literasi yang berfungsi sebagai tempat menunggu siswa yang paralel (siswa kelas 1 dan 2). Yaitu saat siswa yang menunggu shift jam belajar selanjutnya untuk masuk ke kelas, mereka bisa menunggu sambil membaca buku di koridor atau lorong literasi. Hal ini berkaitan erat dengan peningkatan GLS, dengan melakukan pembiasaan membaca 15 menit sebelum dimulainya waktu belajar.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Optimalisasi pemanfaatan lorong kelas menjadi lorong literasi dapat berfungsi maksimal dan mempunyai nilai kebermanfaatan yang tinggi untuk peserta didik dan guru. Kreativitas dan inovasi salah satu ciri dari kepala sekolah sebagai pemimpin perubahan. Dimana dia mampu membawa atau membuat perubahan agar pembelajaran di sekolah menjadi bermanfaat (Cahyono. dkk, 2019: 1). Selain menjadi seorang pemimpin perubahan, kepala sekolah harus memiliki jiwa dan sikap kewirausahaan. Di samping itu selalu tidak puas dengan apa yang dicapainya dalam mengembangkan, mengelola, dan mencapai keberhasilan sekolah. (Suwithi. 2019: 2).

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Lorong literasi bertujuan sebagai ruang baca terbuka yang dapat meningkatkan pembiasaan kemampuan membaca (literacy habit) peserta didik SD 3 Jati Wetan. Dalam buku Panduan Pemanfaatan dan Pengembangan Sudut Baca Kelas dan Area Baca Sekolah di SD dijelaskan bahwa setidaknya sekolah mampu mengakomodasi ruang yang dapat diubah menjadi ruang baca yang tepat untuk peserta didik di setiap sudut atau koridor kelas. (Kemdikbud. 2017: 19).

Sementara dalam jangka panjang, hasil yang diinginkan bukan hanya memiliki kebiasaan membaca, tetapi dapat meningkatkan minat peserta didik dalam membaca. Pemahaman tentang Area Membaca Sekolah adalah suatu tempat atau area  di dalam sekolah atau di luar kelas yang diatur sedemikian rupa. Yakni untuk mengakomodasi kegiatan membaca dan menumbuhkan minat membaca peserta didik. Upaya tersebut merupakan salah satu cara untuk mendorong kebiasaan membaca siswa. (*)