Pendidikan Karakter pada Sekolah Dasar di Era Generasi Digital

Oleh: Dina Setyaningrum, S.Pd.
Guru SDN 03 Paduraksa, Kec. Pemalang, Kab. Pemalang

PENDIDIKAN adalah suatu yang sangat penting dalam pertumbuhan seseorang. Salah satu tujuan dari pendidikan adalah membentuk sumber daya manusia yang berkarakter. Maksudnya karakter dalam hal watak, sifat, perilaku, dan kepribadian individu itu sendiri.

Selamat Idulfitri 2024

Tujuan pendidikan tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyebutkan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Dewasa ini pemerintah memperkenalkan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Penerbitan Peraturan Presiden nomor 87 pasal 2 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), PPK memiliki tujuan di antaranya sebagai berikut. Pertama, membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia tahun 2045 dengan jiwa pancasila. Kedua, mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama dalam penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik. Ketiga, merevitalisasi dan memperkuat potensi dan kompetensi pendidik.

Anak-anak dewasa ini lebih banyak menghabiskan waktu bermain games online. Yakni berinteraksi dengan media gadget seperti telepon seluler, laptop dan video games. Aktivitas anak usia sekolah dasar harus diawasi oleh keluarga, pendidik maupun masyarakat sekitar. Pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik.

Keluarga juga turut memiliki peran dalam pendidikan karakter. Orang tua dapat terlibat dalam kegiatan pembudayaan dan penanaman karakter melalui beberapa kegiatan. Sedangkan peran guru dalam membangun budaya karakter di sekolah adalah dengan memepersiapkan berbagai pilihan dan strategi untuk menanamkan setiap nilai-nilai. Kemudian norma-norma dan kebiasaan-kebiasaan ke dalam mata pelajaran yang diampunya.

Guru dapat memilih cara-cara tertentu dalam proses pembelajaran. Seperti menyampaikan berbagai kutipan yang berupa kata-kata mutiara atau peribahasa yang berkaitan dengan karakter, cerita pendek, diskusi kelompok. Bisa juga dengan membuat karangan pendek, dan sebagainya.

Setiap sekolah hendaknya menentukan kegiatan khusus yang dapat mengikat para guru untuk melakukan kegiatan tersebut secara berkelanjutan. Berikut adalah contoh penerapan keteladan pendidikan karakter di sekolah. Pertama, guru secara sadar datang pada jam 06.30 dan pulang jam 13.30 WIB. Kehadiran guru yang demikian sebagai bentuk komitmen mereka terhadap budaya yang telah berlaku di sekolah yang bersangkutan.

Kedua, sekolah memberikan penghargaan terhadap setiap keberhasilan, usaha, dan memberikan komitmennya. Dengan begitu, semua karyawan dan siswanya akan termotivasi untuk bekerja keras, inovatif, dan mendukung perubahan. Ketiga, sekolah memberikan apresiasi pada saat upacara bendera pada hari Senin untuk guru, karyawan, dan siswa yang berprestasi. Keempat, sekolah menerapkan kegiatan gotong royong setiap satu semester.

Masyarakat juga memiliki peran dalam pendidikan karakter. Sekolah bersama komite sekolah dan masyarakat secara bersama-sama menyusun suatu kegiatan yang dapat mendukung terwujudnya pembudayaan dan penanaman karakter yang baik bagi seluruh warga sekolah. Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain seperti melakukan gotong royong membersihkan tempat-tempat umum seperti masjid, sungai, dan lainnya. Masyarakat juga memainkan peran tak kalah pentingnya sebagai contoh atau model yang dapat menjadi pendorong keberhasilan para siswa. Yakni dalam menerapkan nilai norma, dan kebiasaan-kebiasaan karakter yang baik. Tokoh tokoh seperti pemangku adat dan ustadz bisa dihadirkan di sekolah untuk mengadakan kegiatan sharing atas kehidupan dan keberhasilan mereka. (*)