Bermain Peran untuk Pembelajaran PKn Sekolah Dasar Lebih Menjiwai

Oleh: Favi Farida, S.Pd.SD
Guru SD N 3 Kalipucangwetan, Kec. Welahan, Kab. Jepara

PENDIDIKAN Kewarganegaraan (PKn) diberikan sejak SD sampai SLTA, untuk membekali siswa agar memiliki kemampuan untuk mengenal dan memahami karakter dan budaya bangsa. PKn adalah pelajaran formal yang berupa sejarah masa lampau, perkembangan sosial budaya, perkembangan teknologi, tata cara hidup bersosial, serta peraturan kenegaraan. Begitu luasnya materi PKn menyebabkab anak sulit untuk diajak berfikir kritis dan kreatif dalam menyikapi masalah yang berbeda. Sementara anak usia sekolah dasar tahap berada dalam berfikir mereka masih belum formal, karena mereka baru berada pada tahap operasi onal konkret (Peaget, 1920).

Berdasarkan temuan penulis, sebagian besar siswa kurang aktif dan berfikir kritis dalam materi Negara Kesatuan Republik Indonesia (Pengambilan Keputusan Bersama). Menghadapi kenyataan tersebut di atas, penulis tertarik untuk mendalami dan melakukan tindakan-tindakan perbaikan melalui penelitian tindakan kelas. Yakni dengan menerapkan metode bermain peran.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Harapan penulis adalah terjadinya pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan serta lebih bermakna. Kemudian peserta didik memiliki keberanian yang tuntas untuk menyelesaikan masalah kontektual dengan benar. Penyebab siswa belum memahami materi pengambilan keputusan bersama seperti adalah karena guru tidak menggunakan alat peraga. Saat melakukan diskusi, siswa yang terlibat dalam pembelajaran hanya beberapa. Sedangkan yang lain hanya mendengarkan.

Untuk itu salah satu pemilihan model pembelajaran yang tepat mengatasi permasalahan diatas dengan menggunakan pembelajaran model Bermain Peran. Menurut Sumantri (2001), bermain peran merupakan model mengajar yang berakar pada dimensi personal dan sosial dari pendidikan. Model ini mencoba membantu individu untuk menemukan makna pribadi dalam dunia sosial.

Dalam model mengajar bermain peran, sebagian siswa adalah pemain peran, dan yang lainnya mengamati. Seseorang meletakkan dirinya pada posisi orang lain yang juga bermain peran. Empati, simpati, kemarahan, dan kasih sayang serta afeksi dilakukan dalam berinteraksi, untuk memberikan contoh pada siswa mengenai cara berperilaku di kehidupan sehari-hari. Di antaranya menjajagi perasaan, menambah pengetahuan tentang sikap, nilai-nilai, dan persepsinya. Kemudian mengembangkan keterampilan dan sikapnya dalam memecahkan masalah serta mengkaji pelajaran dengan berbagai cara.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Ada sembilan langkah dalam role playing. Di antaraya Pertama, membangkitkan semangat kelompok. Yaitu dengan memperkenalkan siswa dengan masalah sehingga mereka mengenalnya sebagai suatu bidang yang harus dipelajari. Kedua, pemilihan peserta. Guru dan siswa menggambarkan berbagai karakter/bagaimana rupanya, bagaimana rasanya, dan apa yang mungkin mereka kemukakan. Guru dapat menentukan berbagai kriteria dalam memilih siswa untuk peran tertentu.

Ketiga, menentukan arena panggung, para pemain peran membuat garis besar scenario, tetapi tidak mempersiapkan dialog khusus. Keempat, mempersiapkan pengamat. Cara guru melibatkan siswa dalam pengamatan ilmiah adalah dengan menugaskan mereka untuk mengevaluasi. Lalu mengomentari efektifitasnya, urutan-urutan perilaku pemain, mendefinisikan perasaan-perasaan, serta cara-cara berfikir individu yang sedang diamati.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Kelima, pelaksanaan kegiatan. Para pemeran mengasumsi perannya dan menghayati situasi secara spontan dan saling merespon secara realistik. Keenam, berdiskusi dan mengevaluasi, apakah masalahnya penting dan apakah peserta dan pengamat terlibat secara intelektual dan emosional. Ketujuh, melakukan lagi permainan peran. Siswa dan guru berbagi interpretasi baru tentang peran dan menentukan apakah harus dilakukan oleh individu-individu baru atau tetap oleh orang terdahulu. Dengan demikian, permainan peran menjadi kegiatan konseptual yang dramatis.

Kedelapan, dilakukan lagi evaluasi dan diskusi. Kesembilan, berbagi pengalaman dan melakukan generalisasi. Guru harus mencoba untuk membentuk diskusi, setelah mengalami setrategi bermain peran yang cukup lama. Yakni untuk dapat menggeneralisasi pendekatan terhadap situasi masalah serta akibat dari pendekatan itu. Semakin memadai pembentukan diskusi ini, kesimpulan yang dicapai akan semakin mendekati generalisasi. (*)