Model GI dan CLIS dalam Pembelajaran IPA

Oleh: Yudi Nuryadin
Guru Kelas SDN Sukanagara 02, Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung

IPA atau yang akrab dengan sebutan Ilmu Pengetahuan Alam merupakan mata pelajaran di SD yang dimaksudkan agar siswa mempunyai pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitarnya, yang bisa diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan penyajian gagasan. Pembelajaran IPA yang dilakukan dengan mengaitkan materi pelajaran pada kehidupan sehari-hari maka pembelajaran akan lebih bermakna bagi siswa dan pengetahuan yang didapat siswa akan lebih bertahan lama. Sehingga guru perlu berupaya membantu siswa agar bisa belajar dan mengembangkan segala potensi dalam dirinya dengan mengaitkan pembelajaran IPA yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari.

Namun kondisi yang terjadi di kelas V SDN Sukanagara 02 Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung tidak demikian. Proses pembelajaran yang dilaksanakan masih berpusat pada guru. Partisipasi siswa juga masih kurang terlihat selama proses pembelajaran. Hanya beberapa siswa yang aktif. Guru dalam menjelaskan materi sudah memberikan contoh-contoh konkret yang memudahkan siswa untuk memahami materi. Kegiatan diskusi juga sesekali dilaksanakan namun intensitasnya masih kurang. Akibat dari pembelajaran yang lebih berpusat pada guru menyebabkan beberapa hasil belajar siswa masih ada yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dalam pembelajaran IPA.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Susanto (2015:170-1), menjelaskan pembelajaran IPA di SD dilakukan melalui penyelidikan sederhana dan bukan sekedar menghafal materi. Kegiatan-kegiatan dalam pembelajaran IPA yang melibatkan siswa meliputi pengamatan, diskusi, dan penyelidikan sederhana. Pembelajaran yang demikian membuat situasi pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan materi mudah dipahami siswa. Keterlibatan siswa selama proses pembelajaran juga akan menumbuhkan sikap ilmiah siswa, sehingga siswa mampu berpikir kritis melalui pembelajaran IPA. Proses pembelajaran yang menyenangkan dan dapat menumbuhkan sikap ilmiah siswa dapat tercapai melalui penggunaan model pembelajaran yang sesuai. Model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam proses pembelajaran melalui kegiatan pengamatan, percobaan, dan diskusi yaitu model pembelajaran GI dan CLIS.

Model pembelajaran kooperatif tipe GI dikembangkan pertama kali oleh Thelan. Model ini kemudian diperluas dan dipertajam oleh Sharan dari Universitas Tel Aviv” (Slavin 2010:214). The Network Scientific Inquiry Resources and Connections (2003) dalam Aunurrahman (2014:150), memberikan penekanan tentang “eksistensi investigasi kelompok sebagai wahana untuk mendorong dan membimbing keterlibatan siswa di dalam proses pembelajaran”. Keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sangat penting karena siswa merupakan sentral dari keseluruhan kegiatan pembelajaran.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Pada model pembelajaran GI, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil. Masing-masing kelompok diberi tugas yang berbeda. Setiap anggota kelompok berdiskusi bersama kelompoknya sesuai dengan tugas yang ada. Di akhir pembelajaran masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya.

Model pembelajaran GI memberikan kesempatan yang lebih besar kepada siswa untuk dapat belajar menemukan sendiri pengetahuannya. Siswa melakukan penyelidikan melalui kegiatan mengajukan berbagai pertanyaan, melakukan pengamatan bersama kelompoknya, dan menjelaskan hasil penyelidikannya. Model pembelajaran GI dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki siswa. Karakteristik model pembelajaran GI sesuai jika diterapkan pada pembelajaran IPA.

Model pembelajaran kooperatif lainnya yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPA yaitu model Children Learning in Science (CLIS). Model pembelajaran CLIS merupakan model pembelajaran yang berusaha mengembangkan ide atau gagasan siswa tentang suatu masalah tertentu dalam pembelajaran serta merekonstruksi ide atau gagasan berdasarkan hasil pengamatan dan percobaan. Pada model pembelajaran tersebut dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih aktif dalam berkomunikasi atau berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar, sehingga dapat menambah pengalaman siswa dalam proses belajar. Selain itu dengan kegiatan bereksperimen, siswa akan dapat mempelajari sains melalui pengamatan langsung terhadap gejala-gejala maupun proses-proses sains, dapat melatih keterampilan berpikir ilmiah, dapat menanamkan dan mengembangkan sikap ilmiah, dapat menemukan dan memecahkan berbagai masalah baru melalui metode ilmiah.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Model pembelajaran GI dan CLIS tersebut efektif jika diterapkan dalam pembelajaran IPA. Karakteristik kedua model pembelajaran tersebut juga sesuai dengan pembelajaran IPA dan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa termasuk di kelas V SDN Sukanagara 02 Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung. (*)