Tingkatkan Pemahaman Operasi Hitung Matematika dengan Pendekatan Kontekstual

Oleh: Fatihin, S.Pd.
Guru SDN 01 Gondang, Kec. Taman, Kab. Pemalang

SEJAUH ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihapal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu diperlukan strategi belajar “baru” yang lebih memperdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghapal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkontruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri (Diknas, 2003:2).

Pendekatan contextual teaching and learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa. Kemudian mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Depdiknas, 2002:1). Dengan konsep itu, belajar diharapkan lebih bermakna bagi siswa.

Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status mereka, dan bagaimana mencapainya. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing. Dalam kelas kontekstual tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Tugas guru mengelola kelas sebagai suatu tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa tersebut. Sebab, jika minat dan motivasi dan kemampuan siswa rendah, kualitas pendidik yang kurang profesional.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Pada umumnya, siswa di sekolah mempunyai kesan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit bagi mereka. Oleh karena itu, guru-guru matematika perlu memiliki strategi dan penguasaan yang baik tentang berbagai metode dan pendekatan dalam proses pembelajaran matematika.

Guru menyadari peranan yang dipegangnya dalam pertemuan dengan siswa. Berperan sebagai guru mengandung tantangan, karena di satu pihak guru harus sabar, ramah, menunjukkan pengertian, memberikan kepercayaan, dan menciptakan suasana yang efektif. Di lain pihak, guru harus memberikan tugas, mendorong siswa untuk berusaha mencapai tujuan, mengadakan koreksi, menegur dan menilai sebelum proses belajar mengajar di mulai.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktek dalam pembelajaran kontekstual. Di antaranya pengaktifan pengetahuan yang sudah ada, pemerolehan pengetahuan baru. Kemudian pemahaman pengetahuan, mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman, dan melakukan refleksi.

Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru. Adapun materi yang dijarkan adalah Operasi Hitung Bilangan Bulat 1, 2, 3, 4, 5 merupakan bilangan bilangan bulat positif. Lalu –5, – 4, –3, – 2, –1 merupakan bilangan-bilangan bulat negatif. Sedangkan 0, 1, 2, 3, 4, 5 merupakan bilangan-bilangan bulat tidak negatif atau bilangan-bilangan cacah. Selanjutnya 1, 2, 3, … dinamakan bilangan-bilangan bulat positif, dan …, –3, –2, –1 dinamakan bilangan-bilangan bulat negatif. Berikutnya …, –3, –2, –1, 0, 1, 2, 3, … dinamakan bilangan-bilangan bulat.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Materi dasar seperiu itu perlu diontekstualkan dengan pendekatan tertentu. Selain itu, selama ini siswa dalam belajar lebih banyak secara individu dari pada kelompok. Sehingga menyebabkan kurangnya interaksi dan komunikasi siswa dengan teman maupun guru. Hal ini mengakibatkan siswa takut atau enggan mengemukakan pendapat, ide, pertanyaan maupun saran. Kalaupun ada yang berani itu hanya pada siswa tertentu saja, biasanya siswa-siswi yang pandai dan menonjol dalam kelas tersebut.

Pembelajaran matematika dengan menggunakan metode pendekatan contextual teaching and learning (CTL) pada materi Operasi Hitung Bilangan Bulat telah mampu membawa perubahan pada motivasi dan hasil belajar siswa. Yakni ditunjukkan dari data peningkatan persentase ketuntasan klasikal dan rata-rata nilai. Meskipun masih terdapat kekurangan-kekurangan dalam penerapannya. (*)