Melihat Rebana untuk Pendidikan Kesehatan Siswa Sekolah Dasar

Oleh: Nurkholis, S.Pd.SD
Kepala SD N Rejosari 2, Kec. Mijen, Kab. Demak

EKONOMI global dan reformasi pendidikan menuntut ekspektasi dan kinerja intensif dari kepala sekolah untuk menangani perubahan eksternal. Naik itu konsolidasi internal ataupun pemanfaatan sumber daya sekolah. Setiap kepala sekolah memiliki tanggung jawab penuh terhadap seluruh aspek operasional penyelanggaraan sekolah. Mulai dari perencanaan, pelaksanaaan, sampai pada kepengawasan. Untuk menjalankan tugasnya tersebut, seorang kepala sekolah wajib memiliki kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial (Permendiknas nomor 13 tahun 2007).

Selamat Idulfitri 2024

Kepala sekolah dengan kompetensi yang dimilikinya harus mampu memimpin sekolah dalam rangka pendayagunaan sumber daya sekolah secara optimal. Seorang pemimpin dikatakan sebagai entrepreneur, yaitu harus kreatif, inovatif, bekerja keras, ulet, dan memiliki naluri kewirausahaan. Kompetensi kewirausahaan yang diharapkan dicapai oleh kepala sekolah berdasarkan hasil revisi atas masukan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah adalah sebagai berikut. Pertama, menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah.

Kedua bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang efektif. Ketiga, memiliki motivasi yang kuat untuk sukses. Keempat, pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah. Kelima, memiliki naluri kewirausahaan dalam meningkatan mutu pendidikan.

Lima kompetensi kewirausahaan berfokus pada dua kompetensi, yaitu menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah dan pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah. Ketika masa pandemi awal tahun 2020 dan sekolah sudah memasuki tahun ajaran baru, aktivitas pembelajaran secara tatap muka disekolah masih belum bisa dilaksanakan. Belum ada keputusan kapan proses pembelajaran tatap muka disekolah di mulai, meskipun kebijakan pemerintah sudah mengarah ke new normal (tatanan kenormalan baru).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) telah melakukan evaluasi penyelenggaraan pembelajaran tahun ajaran 2020/2021 yang sedang berjalan. Mendikbud menegaskan kembali pentingnya kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan di masa pandemi covid-19.

Sosialisasi tentang pendidikan kesehatan bagi siswa yang sudah dilaksanakan disekolah berupa poster. Sehingga informasi tentang pendidikan kesehatan masih belum sampai kepada seluruh siswa, karena jumlah poster kesehatan tidak sebanding dengan jumlah siswa. Selain itu tidak semua siswa membaca poster kesehatan tersebut.

Melihat Rebana (Melalui Literasi Kesehatan Remaja Sehat dan Bebas Narkoba) merupakan salah satu pemecahan masalah dalam meningkatkan pendidikan kesehatan siswa. Data yang dibutuhkan yaitu data sebagai berikut. Pertama, konteks relevansi program telah sesuai dengan kebutuhan sekolah. Yakni dengan indikator pengamatan dukungan pemerintah, manajemen kepala sekolah, dan dukungan stakeholder.

Kedua, input berupa kesiapan sekolah. Seperti sarana prasarana, guru, siswa, dan kepala sekolah untuk melaksanakan program dan sasaran yang jelas. Indikator pengamatannya adalah karakteristik siswa, guru, kurikulum, dan ketersediaan sarana-prasarana pendidikan. Ketiga, proses dengan indikator pengamatan pada partisipasi aktif guru, siswa, dan stakeholder lainnya. Keempat, produk dengan indikator pengamatan dari prestasi akademik dan non akademik siswa.

Kegiatan Melihat Rebana dilaksanakan pada saat jam kokurikuler setiap minggunya dengan jenjang kelas yang berbeda. Kegiatan latihan dilaksanakan secara bervariasi mulai dari penyampaian informasi secara klasikal, permainan ular tangga, monopoli, tebak gambar, dan lain-lain. Sebagai pendidik sebaya siswa dilatih, dibimbing dan dibekali berbagi informasi terkait permasalahan remaja. Seperti kesehatan reproduksi, narkoba dan HIV/AIDS. Media yang dipergunakan juga bervariasi dan kekinian, sehingga menarik bagi remaja. Di antaranya membuat konten Tiktok, vlog, dan drama musikal. (*)