Pembelajaran PAI Lebih Bermakna dengan ICM

Oleh: Nawi Fabanyo, S.Ag., M.Pd.
Guru PAI SDN 04 Bulu, Kec. Petarukan, Kab. Pemalang

PENDIDIKAN merupakan suatu investasi jangka panjang bagi setiap kehidupan manusia. Dalam proses belajar mengajar, diharapkan siswa dapat memahami suatu pengetahuan untuk mengembangkan ide dan gagasan dalam menyelesaikan permasalahan hidupnya. Pendidikan agama Islam adalah upaya yang terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam.

Sedangkan pengertian pendidikan agama Islam menurut (Daradjat et al., 1996) adalah pendidikan yang melalui anjuran-anjuran agama Islam. Yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik, agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan menjadikan ajaran ajaran agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh. Kemudian menjadikan ajaran agama Islam sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat nanti.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Seorang guru harus bisa memastikan bahwa maksud dari suatu pembelajaran telah tersampaikan kepada siswa dengan baik. Penggunaan strategi, metode serta model yang tepat dapat menarik minat serta perhatian siswa dalam belajar. Untuk menumbuhkan interaksi guru dengan siswa secara efektif, perlu diupayakan penggunaan metode pembelajaran yang tepat. Metode index card match merupakan salah satu metode pembelajaran berbasis PAIKEM (aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan).

Istilah dari kata aktif adalah yaitu pembelajaran sebuah proses aktif yang membangun makna dan pemahaman dari infoprmasi, ilmu pengetahuan maupun pengalaman oleh peserta didik sendiri. Istilah dari inovatif, dimaksudkan dalam proses sebuah pembelajaran, diharapkan muncul inovas-inovasi positif yang lebih baik. Istilah kreatif memiliki makna bahwa pembelajaran merupakan sebuah proses mengembang kan kreatifitas peserta didik. Karena pada dasarnya setiap individu memiliki imajinasi dan rasa ingin tau yang tidak pernah berhenti dalam suasana yang menyenangkan dan mengesankan.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Index card match merupakan salah satu dari model atau strategi pembelajaran aktif (active learning) berbasis PAIKEM, sebagai alternatif yang dapat digunakan oleh guru untuk dapat menambah keaktifan peserta didik. Baik secara individu maupun kelompok. Dalam buku tulisan Melvin L. Silberman (1997), kata index card match berasal dari bahasa Inggris yang artinya mencari jodoh kartu tanya jawab.

Langkah-langkah penerapan metode index card match adalah sebagai berikut. Pertama, guru membuka pelajaran kelas dan menyampaikan bahan materi pokok. Kedua, guru menyiapkan potongan-potongan kertas sejumlah peserta dalam kelas. Kertas tersebut dibagi menjadi dua kelompok. Ketiga, kertas yang disiapkan tersebut telah diisi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang telah diberikan sebelumnya. Keempat, pada potongan kertas yang lain, telah dituliskan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuat.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Kelima, kertas tersebut dikocok sehingga akan tercampur antara soal dan jawaban. Keenam, guru membagi setiap siswa satu kertas, dengan menjelaskan bahwa ini adalah aktivitas yang dilakukan berpasangan. Sebagian peserta akan mendapatkan soal, dan sebagian yang lain akan mendapatkan jawaban. Ketujuh, siswa diberikan waktu untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan yang diterimanya, dan sebaliknya.

Kedelapan, dilakukan pembahasan dengan cara guru meminta siswa untuk mencari pasangannya. Dimulai dengan mempersilakan kepada siswa yang membawa kertas berisi pertanyaan untuk membaca dengan suara keras. Kemudian siswa yang membawa kertas berisi jawaban mendengarkan sekaligus menjawab dengan keras (bagi yang merasa jawabannya sesuai/tepat). Selain itu, dijelaskan juga agar mereka tidak memberikan materi yang mereka dapatkan kepada teman yang lain. Kesembilan, guru mengakhiri proses pembelajaran dengan apresiasi, klarifikasi, kesimpulan, evaluasi, serta tindak lanjut. (*)