Efektivitas Flash Card dalam Pembelajaran Materi Conditional Clauses

Oleh: Katarina Kristanti, S.Pd
Guru Bahasa Inggris SMA Negeri 12 Semarang

DALAM pembelajaran bahasa Inggris, terdapat empat keterampilan berbahasa yang harus dipelajari oleh siswa. Antara lain menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Dibandingkan tiga keterampilan berbahasa yang lain, menulis merupakan kompetensi yang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.

Selamat Idulfitri 2024

Pada materi pelajaran bahasa dan sastra Inggris semester 1 kelas XII IPS/IPA SMA Negeri 12 Semarang terdapat KD Conditional Clause atau Kalimat Pengandaian. Berdasarkan hasil pengamatan di kegiatan pembelajaran, didapatkan fakta bahwa sebagian besar siswa mengalami kesulitan menulis kalimat pengandaian.

Untuk mengatasi masalah tersebut, guru mencoba menggunakan media flash card atau kartu kata. Menurut Baleghi Anshoori (dalam Eka dkk, 2017),  flash  card  merupakan  sebuah  kartu  yang  mana terdapat  sebuah  kata,  kalimat, atau  gambar  di dalamnya.

Tahapan penggunaan flash card dalam pembelajaran adalah guru menjelaskan tentang materi conditional clause tipe 1, 2 dan 3.  Siswa mempelajari tata bahasa conditional clause dan menggabungkan antara main clause (induk kalimat) dengan sub clause (anak kalimat) memakai kata penghubung IF. Guru membawa 6 kartu berisi kalimat berukuran 22×33 cm atau sama dengan kertas ukuran F4. 2 kartu untuk masing-masing tipe conditional clause, dan 1 kartu berisi induk kalimat dan 1 kartu berisi anak kalimat.

Kemudian siswa bersama-sama menganalisa tata bahasa 6 kalimat tadi sekaligus menggabungkan kartu-kartunya, membentuk kalimat pengandaian yang benar. Ada juga beberapa kartu yang berupa gambar. Guru memberi penjelasan tentang gambar-gambar tersebut, kemudian menyuruh siswa untuk menulis kalimat yang mendeskripsikannya. Ada gambar yang dideskripsikan sebagai anak kalimat, ada juga yang sebagai induk kalimat. Lalu siswa menggabungkan kalimat deskripsi gambar tadi menjadi kalimat pengandaian utuh.

Selanjutnya, siswa dibagi menjadi enam kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari enam siswa dan mendapatkan tugas untuk membuat enam kartu berukuran sama seperti yang dibuat guru. Selanjutnya menuliskan kalimat dari tiag tipe conditional clause. Yakni tiga kartu induk kalimat, tiga kartu anak kalimat, serta dua kartu yang berisi gambar-gambar yang nantinya akan dideskripsikan sebagai induk dan anak kalimat.

Pada pembelajaran berikutnya, guru meminta tiga siswa perwakilan dari tiga kelompok pertama untuk maju ke depan kelas menunjukkan kartu yang berisi induk kalimat. Selanjutnya, 3 kelompok kedua akan melihat kartu anak kalimat kepunyaan mereka sendiri untuk dicocokkan dengan kartu induk kalimat 3 kelompok pertama. Bila cocok dari segi tata bahasa juga makna kalimatnya, mereka boleh maju ke depan kelas dan mendekatkan kartu anak kalimat mereka ke kartu induk kalimat milik 3 wakil dari tiga kelompok pertama. Begitu juga ketika giliran 3 kelompok kedua untuk menunjukkan 3 kartu anak kalimat di depan kelas. Lalu 3 kelompok pertama menganalisa kartu-kartu induk kalimat mereka, apakah cocok bila dipasangkan dengan kartu anak kalimat yang ada di depan kelas.

Selanjutnya, bila ada kartu-kartu yang tidak memiliki pasangan karena tata bahasa yang salah serta makna kalimat yang tidak menyambung, para siswa harus membenahi tatabahasanya atau menulis kalimat baru. Sementara itu, ketika ada kelompok yang menunjukkan dua kartu berisi dua gambar di depan kelas, kelompok lain harus menuliskan kalimat yang mendeskripsikan gambar-gambar tersebut. Setelah itu menggabungkannya menjadi 1 kalimat pengandaian yang utuh.

Dari kegiatan ini ternyata siswa bisa lebih mudah mempelajari dan memahami materi. Terbukti dengan nilai yang diatas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk KD conditional clause. Media flash card, selain efektif dalam prosesnya sebagai media pembelajaran, juga membuat suasana pembelajaran menyenangkan. Sehingga hasil akhir tujuan pembelajaran tercapai dan melekat erat dalam ingatan siswa. (*)