Pembelajaran Interaktif dengan Metode Role Playing

Oleh: Sudarmi, S,Pd
Guru SDN 3 Mangunrejo, Kec. Pulokulon, Kab. Grobogan

KURIKULUM merdeka bertujuan untuk memulihkan pembelajaran yang mengalami kemunduran, karena efek dari covid-19. Maka, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim mengajak para pendidik untuk mengembangkan pembelajaran di kelas secara interaktif. Misalnya dengan model pembelajaran role playing, kelas poin, number head (kepala bernomor struktur), tebak kata, dan lain sebagainya.

Selamat Idulfitri 2024

Metode role playing adalah metode penyuluhan berbentuk permainan gerak yang di dalamnya terdapat sistem, tujuan, dan melibatkan unsur keceriaan. Beberapa keunggulan menggunakan metode ini adalah mampu menumbuhkan semangat serta rasa kebersamaan melalui pembelajaran yang menyenangkan.

Menurut Djamarah (2010), model role playing (bermain peran) dapat dikatakan sama dengan sosiodrama, yang pada dasarnya mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial. Bermain peran pada prinsipnya merupakan pembelajaran untuk menghadirkan peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu pertunjukan peran di dalam kelas. Kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan. Lalu memberikan saran/alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut (Hamdayana, 2014).

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Langkah-langkah metode pembelajaran role playing adalah sebagai berikut. Pertama, Guru berupaya memperkenalkan siswa pada permasalahan yang mereka sadari sebagai suatu hal yang bagi semua orang perlu mempelajari dan menguasainya. Hal ini bisa muncul dari imajinasi siswa atau sengaja disiapkan oleh guru. Sebagai contoh, guru menyediakan suatu cerita untuk dibaca di depan kelas. Pembacaan cerita berhenti jika dilema atau masalah dalam cerita menjadi jelas. Kemudian dilanjutkan dengan pengajuan pertanyaan oleh guru yang membuat siswa berpikir tentang hal tersebut.

Kedua, memilih peran. Yaitu siswa dan guru membahas karakter dari setiap pemain dan menentukan siapa yang akan memainkannya. Dalam pemilihan pemain, guru dapat memilih siswa yang sesuai untuk memainkannya. Ketiga, menata ruang kelas yang bisa dibuat layaknya panggung dari suatu pertunjukan. Keempat, menyiapkan pengamat. Yaitu guru dapat menunjuk siswa sebagai pengamat yang harus juga terlibat aktif dalam permainan peran.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Kelima, memainkan peran. Permainan ini dilaksanakan secara spontan. Pada mulanya akan banyak siswa yang masih kebingungan untuk memainkan perannya atau bahkan tidak sesuai dengan peran yang seharusnya ia lakukan. Bahkan mungkin ada yang memainkan peran yang bukan perannya. Jika permainan peran sudah terlalu jauh keluar jalur, guru dapat menghentikannya untuk segera masuk ke langkah berikutnya.

Keenam, diskusi dan evaluasi. Di sini guru bersama dengan siswa mendiskusikan permainan tadi dan melakukan evaluasi terhadap peran-peran yang dilakukan. Usulan perbaikan akan muncul. Mungkin ada siswa yang meminta untuk berganti peran atau bahkan alur ceritanya akan sedikit berubah. Ketujuh, berbagi pengalaman dan menyimpulkan. Siswa diajak untuk berbagi pengalaman tentang tema permainan peran yang telah dilakukan dan dilanjutkan dengan membuat kesimpulan. Misalnya siswa akan berbagi pengalaman tentang bagaimana ia dimarahi habis-habisan oleh ayahnya. Kemudian guru membahas bagaimana sebaiknya siswa menghadapi situasi tersebut. Seumpama siswa berperan menjadi seorang yang miskin atau pengemis, sikap seperti apa yang sebaiknya dilakukan. Dengan cara ini, siswa akan belajar tentang kehidupan di masyarakat.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Siswa akan merasa senang dan menikmati sekali bila diajarkan dengan metode role playing. Misal bermain masak-masakan, anak berperan sebagai koki dan orang tua sebagai pembeli makanan. Model pembelajaran bermain peran merupakan salah satu model pembelajaran sosial. Yaitu suatu model pembelajaran dengan menugaskan siswa untuk memerankan suatu tokoh yang ada dalam materi atau peristiwa yang diungkapkan dalam bentuk cerita sederhana. Alasan menggunakan metode ini, karena dapat menjadikan siswa banyak beraktivitas dalam pembelajaran dan dapat menciptakan suasana yang menyenangkan. (*)