Berfikir Sains untuk Siswa Sekolah Dasar dengan PBL

Oleh: Tofik Hidayat, S.Pd. SD
Guru SD N 1 Prigi, Kec. Sigaluh, Kab. Banjarnegara

DENGAN perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka pembelajaran sains disajikan dengan menerapkan berbagai pendekatan sehingga relevan dengan tujuan pembelajaran IPA. Sains berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistimatis. Sehingga sains bukan sekedar penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep atau prinsip saja. Tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan sains di sekolah dasar diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitarnya.

Dari data nilai ulangan harian IPA IV SD SD Negeri 1 Prigi masih kurang, sehingga diperlukan solusi untuk memberikan positif berfikir sains lebih baik lagi. Pada saat pembelajaran, siswa belum terlihat semangat dan atusias dalam mengikuti pembelajaran. Dengan hanya mendengarkan materi pembelajaran yang disampaikan guru, belum terlihat aktivitas siswa yang dapat membuat siswa aktif dalam mengikuti pembelajaran.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Pada saat pembelajaran, guru lebih mendominasi kegiatan pembelajaran daripada siswa. Hal ini terlihat dari pembelajaran yang dilaksanakan, dimana guru menggunakan model pembelajaran yang belum membuat siswa aktif dalam mengikuti proses pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran yang tepat akan turut menentukan efektivitas dan efisiensi pembelajaran. Guru dapat menggunakan model pembelajaran yang tepat, sesuai dengan materi pengajaran. Yakni agar pelajaran tersebut dapat diterima, dipahami, dan diterapkan dengan baik kepada siswa dalam proses pembelajaran. Dengan begitu, hasil belajar siswa dapat meningkat sesuai KKM yang telah ditentukan.

Dalam upaya pencapaian tujuan tersebut, diperlukan strategi tertentu, terutama dalam mengelolah proses belajar mengajar. Salah satu model pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran yang bersifat konstruktivis, yakni siswa lebih aktif dalam proses belajar mengajar. Menurut Sanjaya (Susiana, H. 2021), problem based learning (PBL) merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Hakekat permasalahan yang diangkat dalam PBL adalah gap atau kesenjangan antara situasi nyata dengan situasi yang diharapkan, atau antara yang terjadi dengan harapan. Model PBL menggunakan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari peserta didik untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berfikir kritis dan pemecahan masalah serta mendapatkan pengetahuan konsep-konsep penting. Dimana tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu peserta didik mencapai keterampilan mengarahkan diri. Pembelajaran berbasis masalah menggunakan tingkat berfikir yang lebih tinggi dan dalam situasi berorientasi pada masalah, termasuk bagaimana belajar.

Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu juga dengan model PBL. Berikut merupakan kelebihan penerapan model pembelajaran PBL dengan pemecahan masalah pembelajaran menurut Sanjaya (Susiana, H. 2021). Pertama, merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran. Kedua, dapat menantang kemampuan peserta didik serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi peserta didik. Ketiga, meningkatkan aktivitas pembelajaran peserta didik. Keempat, dapat membantu peserta didik bagaimana mentransfer pengetahuan untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Keenam, bisa memperlihatkan kepada peserta didik bahwa setiap mata pelajaran pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh peserta didik. Bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku saja. Ketujuh, dianggap lebih menyenangkan dan disukai peserta didik. Kedelapan, dapat mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis dan menyesuaikan dengan pengetahuan baru. Kesembilan, dapat memberikan kesempatan peserta didik untuk menerapkan pengetahuan yang dimiliki dalam dunia nyata. Kesepuluh, mengembangkan minat peserta didik untuk secara terus menerus belajar, sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir. (*)