Penggunaan Metode Talking Stick untuk Menguji Hafalan Q.S An-Nasr dan Al-Kautsar

Oleh: Siti Maflikhah, S.Pd.I
SD N 01 Peguyangan, Kec. Bantarbolang, Kab.Pemalang

KEGIATAN belajar-mengajar atau biasa disebut dengan pembelajaran merupakan proses interaksi antara guru dan siswa. Dimana kedudukan guru sebagai fasilitator dan motivator. Sehingga guru harus benar-benar menciptakan kondisi yang dapat membangkitkan semangat belajar siswanya atau menumbuhkan motivasi. Salah satu komponen yang tidak boleh dilupakan adalah penggunanan strategi atau metode yang tepat. Dalam pembelajaran, terdapat serangkaian proses yang terjadi dari perbuatan guru dan siswa yang menyebabkan terjadinya hubungan timbal balik antara keduanya. Apabila tidak terjadi timbal balik dalam pembelajaran, berarti proses pembelajaran tidak berhasil.

Selamat Idulfitri 2024

Dalam proses pembelajaran di sekolah selama ini, masih sering kita dapati para guru lebih menggunakan metode verbalistik, yaitu ceramah dan tanya jawab. Hal ini tidak berarti bahwa metode ceramah tidak baik. Melainkan pada suatu saat peserta didik akan menjadi bosan bila guru berbicara terus, sedangkan mereka duduk diam mendengarkan. Selain itu kadang kala ada pokok bahasan yang memang kurang tepat untuk disampaikan melalui metode ceramah dan lebih efektif melalui metode lain. Salah satunya yaitu pada materi Memahami dan Menghafalkan Surah An-Nasr dan Al-Kautsar.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Untuk membantu meningkatkan kemampuan memahami arti, isi kandungan, dan hafalan surah An-Nasr dan Al-Kautsar di SDN 01 Pegunyangan, maka salah satu usaha yang dilakukan guru PAIBP adalah dengan menerapkan metode talking stick. Metode ini merupakan strategi pembelajaran yang memanfaatkan tongkat sebagai media pembelajarannya.

Guru memberikan tongkat pada salah satu peserta didik dan siapa yang memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah peserta didik mempelajari materi pokoknya. Metode pembelajaran ini dapat membuat peserta didik ceria, senang, dan melatih mental mereka untuk siap pada situasi dan kondisi apapun.

Pembelajaran kooperatif tipe talking stick mendorong peserta didik untuk berani mengemukakan pendapat. Pembelajaran dengan metode talking stick ini diawai oleh penjelasan guru mengenai materi pokok yang akan dipelajari. Peserta didik diberi kesempatan untuk membaca dan mempelajari materi tersebut. Berikan waktu yang cukup untuk aktivitas ini. Selanjutnya guru bisa memulai untuk menerapkan metode talking stick tersebut.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Langkah-langkah dalam penerapan metode talking stick pada materi hafalan surah An-Nasr dan Al-Kautsar yaitu sebagai berikut. Pertama, guru membacakan surah An-Nasr dan Al-Kautsar dengan benar di depan peserta didik. Kedua, guru meminta peserta didik untuk mengulang membaca surah An-Nasr dan Al-Kautsar bersama-sama seperti yang sudah dicontohkan guru sebelumnya

Ketiga, guru memberikan peserta didik waktu untuk mempelajari dan menghafalkan surah An-Nasr dan Al-Kautsar tersebut. Keempat, guru bisa memulai menguji pemahaman dan hafalan peserta didik dengan memutar tongkat dari depan ke belakang. Bisa sambil menyanyi ketika memutarkan tongkat agar kelas menjadi lebih menyenangkan. Kelima, kemudian guru bisa menghentikan kapan saja tongkat tersebut. Kemudian peserta didik yang memegang tongkat harus menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Yakni mengenai pemahaman atau hafalan dari surah An-Nasr dan Al-Kautsar yang sudah dipelajari sebelumnya. Keenam, tahapan terakhir dari metode talking stick ini adalah guru memberikan catatan kecil kepada peserta didik atau kesimpulan dari materi yang sudah dipelajari. Di samping itu memberikan evaluasi kepada peserta didik yang masih belum tuntas.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Setiap ada kelebihan pasti ada juga kekurangan. Begitupun juga berlaku bagi metode pembelajaran talking stick, mempunyai beberapa kekurangan. Di antaranya yaitu peserta didik memiliki ketakutan terhadap pertanyaan yang akan diberikan oleh guru, peserta didik yang belum siap belum bisa menjawab pertanyaan dari guru. Selain itu memerlukan waktu yang relatif panjang, dan kelas menjadi ramai atau gaduh. (*)