Tingkatkan Berfikir Kritis Pembelajaran IPS Siswa melalui Problem Posing

Oleh: Dina Hikmah Safariyah, S.Pd. SD
Guru SD N 01 Limbangan, Kec. Ulujami, Kab. Pemalang

MENJADI persoalan, ketika pembelajaran IPS sekolah dasar masih didominasi dengan metode ceramah dan mengkonfirmasi suatu konsep saja. Guru orientied sering terjadi dikelas. Padahal IPS adalah salah satu mata pelajaran di sekolah dasar yang justru membutuhkan daya pikir dan repon kritis terhadap kasus-kasus persoalan sosial disekitar kita. Maka IPS harus mampu menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan daya nalar siswa dan dapat meningkatkan kemampuan dalam mengaplikasikan IPS.

Selamat Idulfitri 2024

Namum dalam kenyataannya, dengan berbagai alasan cukup banyak, siswa kurang menyenangi IPS. Untuk mengatasi masalah tersebut, siswa selalu dituntut untuk aktif dalam belajar, misalnya dalam hal bertanya. Menurut Indera (2009), pertanyaan lebih penting dari jawaban. Bertanya merupakan salah satu kegiatan utama dalam mencapai tujuan pembelajaran di sekolah. Semakin aktif siswa bertanya dan memahami tentang pelajaran, maka semangat belajarnya akan termotivasi dan meningkat. Keterampilan bertanya seorang anak perlu terus ditingkatkan guna meningkatkan kemampuan intelektual, kemampuan emosional, dan kematangan sosial.

Model problem posing adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk merumuskan masalah atau pertanyaan sendiri berdasarkan situasi yang diberikan guru. Penerapan model ini dapat melatih siswa untuk memecahkan masalah serta memungkinkan adanya peningkatan hasil belajar.

Problem posing adalah model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat permasalahan (soal) sendiri. Kemudian menjawab dengan baik secara individu maupun kelompok. Hasil belajar yang telah dicapai dapat diukur melalui kemajuan yang telah diperoleh siswa setelah mengajar sungguh-sungguh. Melalui proses belajar, seorang siswa berusaha mengumpulkan pengalaman berupa pengetahuan, kecakapan, keterampilan, dan penyesuaian tingkah laku.

Dimyanti dan Mujiono dalam Indera (2009) mengatakan bahwa hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi. Yaitu sisi siswa dan sisi guru. Sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Sedangkan sisi guru, upaya dalam peningkatan kualitas proses dari kualitas pendidikan dapat dilakukan melalui sistem penilaian hasil belajar.

Hasil penilaian yang dibuat oleh guru dalam bidang studi atau mata pelajaran yang diajarkan tidak hanya berguna bagi diri dan siswanya. Tetapi harus juga dimanfaatkan oleh semua staf sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah yang bersangkutan. Untuk itu, setiap guru bidang studi atau mata pelajaran perlu memberikan laporan tentang data hasil penilaian secara periodik kepada berbagai pihak. Yakni kepada sekolah, wali kelas, guru pembimbing, dan guru kepada  guru rekan lainnya.  

Problem posing berasal dari dua kata dalam bahasa Inggris, problem yang berarti masalah/soal dan posing; to pose berarti mengajukan, membentuk. Sehingga problem posing dapat diartikan pembentukan soal. Model problem posing atau pembuatan pertanyaan/soal merupakan pendekatan pembelajaran yang diadaptasikan dengan kemampuan siswa dalam proses pembelajaran. Yakni untuk membangun kognitif siswa serta dapat memotivasi siswa untuk berfikir kritis dan kreatif. Proses berfikir demikian dengan cara meningkatkan schemata yang dimilikinya dipergunakan dalam merumuskan pertanyaan. Dengan model problem posing, siswa dapat merumuskan pengalaman langsung dalam bentuk membuat pertanyaan sendiri.

Pembelajaran dengan model problem posing akan membiasakan siswa  memunculkan permasalahan. Sehingga siswa akan terbiasa untuk menghadapi    masalah. Kegiatan merumuskan soal juga memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa utuk merekonstruksi pikiran-pikiranya dalam rangka merumuskan soal. Kegiatan ini memungkinkan pembelajaran yang dilakukan lebih bermakna sesuai dengan schemata yang dimiliki. Menurut Brown & Walter dalam Parlan, dkk (2005), kondisi problem posing dapat berupa gambar, benda manipulatif, permainan, teori atau konsep, ataupun penyelesaian suatu soal. (*)