Meningkatkan Keterampilan Literasi dan Numerasi Siswa dengan Modul Pembelajaran

Oleh: Burhanudin, S.Pd.SD.
Guru SD N 03 Kalirandu, Kec. Petarukan, Pemalang

LITERASI baca tulis menjadi kemampuan dasar untuk menunjang keterampilan dan ilmu lainnya. Artinya, dengan membaca, setiap individu akan mendapat pengetahuan, wawasan, dan bisa berpikir luas. Aktivitas membaca dan menulis akan mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Literasi baca tulis yang baik juga sangat menunjang peserta didik dalam mengerjakan asesmen kompetensi minimum (AKM).

Selamat Idulfitri 2024

Upaya meningkatkan literasi baca tulis peserta didik di antaranya dapat dilakukan dengan menarik perhatian siswa melalui sumber dan bahan bacaan yang menarik. Kemudian membiasakan peserta didik dengan jenis dan format bacaan yang beragam. Usaha meningkatkan literasi bahasa, yaitu dengan menyiapkan e-modul (Mataya, 2020). Selaras dengan Ramadhan, bahwa modul pembelajaran sangat penting dalam kemampuan menulis (Indriyani et al., 2018).

Modul merupakan salah satu bahan ajar yang berisi kesatuan materi yang tersusun secara sistematis. Modul minimal harus memuat tujuan pembelajaran, materi belajar, dan evaluasi. Dalam pembelajaran, modul pendamping yang mendukung sangat diperlukan sebagai bahan ajar penunjang guru dan peserta didik. Sehingga, dengan sumber belajar yang relevan dan mendukung, diharapkan dapat membuat pembelajaran efektif, efisien, serta mencapai tujuan pembejaran secara maksimal.

Siswoyo (2021) pada penelitiannya membuktikan bahwa penggunaan modul efektif dan efisien dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam proses pembelajaran. Modul berisi pembelajaran berbasis literasi dan numerasi. Modul ini dikembangkan dengan merujuk pada kompetensi dasar dalam penyederhanaan kurikulum. Sehingga aktivitas pembelajaran dioptimalkan untuk mencapai kompetensi literasi dan numerasi pada semua mata pelajaran (Kemendikbud, 2020).

Pelaksanaan pembelajaran dengan modul memiliki tiga tahapan. Pertemuan pertama, siswa diarahkan untuk membaca materi ras dan suku, mencari informasi, serta menyimpulkan mengenai ras dan suku. Selanjutnya guru mengajak peserta didik untuk melakukan kegiatan Ayo Menulis. Peserta didik diminta untuk mengidendifikasi suku dan asal daerah yang ada pada lingkungan keluarga melalui pohon keluarga. Pada kegiatan ini, mereka mulai berani bertanya dan aktif, serta berinteraksi dengan teman-temanya.

Pertemuan kedua, guru membentuk kelompok untuk siswa berdiskusi menemukan informasi tersurat dan menjelaskan isi bacaan. Kegiatan diskusi pun berjalan lancar, dan peserta didik sudah mulai beradaptasi dengan modul, dan mengikuti pembelajaran dengan interaktif. Kemudian saling bertanya dan memberi pendapat serta mencari solusi bersama kelompok. Peserta didik mampu menyampaikan informasi yang ada dalam teks bacaan. Kegiatan dilanjutkan dengan Ayo Memahami dan Ayo Berlatih. Mereka memahami beberapa arti kosa kata baru, kemudian menjawab untuk memilih kata yang benar dalam kegiatan Ayo Berlatih.

Pertemuan ketiga, yaitu teks bacaan. Pertemuan ketiga peserta didik semakin bersemangat dan antusias, dilihat dari kegiatan tanya jawab secara lisan mengenai teks bacaan, hampir semua peserta didik antusias menjawab dengan benar. Kemudian dilanjut dengan kegiatan berdiskusi menjawab pertanyaan dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari soal-soal pada pertemuan satu dan dua.

Dapat disimpulkan bahwa meningkatkan keterampilan literasi dan numerasi siswa dengan modul pembelajaran berhasil. Terbukti, hampir semua peserta didik mampu memahami bacaan atau materi ajar. Terlihat pada saat diskusi dan tanya jawab, peserta didik mampu menjawab dengan benar. Sikap antusias, kooperatif, dan interaktif juga terlihat di setiap pertemuan. Suasana pembelajaran menjadi menyenangkan serta tujuan pembelajaran dapat tercapai. (*)