Time Token untuk Akselerasi Ketrampilan Berbicara di Sekolah Dasar

Oleh: Utiyah, S.Pd.
Guru SDN 01 Kaliprau, Kec. Ulujami Kab. Pemalang

KEAKTIFAN berbicara merupakan salah satu komponen penting dalam pembelajaran. Namun, berdasarkan observasi yang dilaksanakan di SD Negeri 01 Kaliprau, terlihat sebagian besar siswa cenderung pasif selama kegiatan pembelajaran. Sebagian besar siswa yang lain hanya bicara ketika ditunjuk dan ditanya langsung oleh guru. Walaupun ada juga yang tetap tidak menjawab karena ragu-ragu. Selama pembelajaran pada hari itu, guru menggunakan metode ceramah dan tanya jawab dari awal sampai akhir pembelajaran.

Selamat Idulfitri 2024

Guru sering memberikan contoh yang konkret. Seperti menceritakan hal-hal yang relevan dengan materi sekaligus keseharian siswa. Guru juga menunjukkan benda yang ada di dalam kelas sebagai model peraga. Namun, pendekatan-pendekatan tersebut tidak juga berhasil memancing siswa untuk berpartisipasi aktif dalam menanggapi pertanyaan atau bertanya.

Banyak model-model pembelajaran yang dapat membantu guru memancing keaktifan berbicara siswa. Salah satu model yang cocok, dengan mempertimbangkan jumlah siswa, kondisi kelas yang cukup luas dan tenang, dan kemampuan guru menguasai kelas, adalah model pembelajaran time token. Yakni model pembelajaran yang bertujuan agar masing-masing anggota kelompok melakukan diskusi dan mendapatkan kesempatan untuk memberikan konstribusi dalam menyampaikan pendapat mereka. Kemudian mendengarkan pandangan serta pemikiran anggota lain (Arends, 1998).

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Kegiatan inti dari model time token adalah memberikan kupon bicara pada semua siswa. Siswa harus menghabiskan kupon bicara tersebut sebelum pembelajaran berakhir. Model ini hanya membutuhkan kertas yang didesain menarik sebagai kupon bicara dan pengaturan tempat duduk yang nyaman bagi siswa untuk berdiri dan duduk kembali. Atau maju ke depan dan kembali ke tempat duduk berulang kali.

Pembelajaran di kelas akan lebih bermakna apabila guru dapat memilih model pembelajaran yang menarik. Model mengajar merupakan suatu pola atau rencana yang dipakai guru dalam mengorganisasikan materi pelajaran, maupun kegiatan siswa dan dapat dijadikan petunjuk bagaimana guru mengajar. Adapun langkah-langkah pembelajaran menurut adalah sebagai berikut.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Pertama, guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Kedua, guru mengondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi (cooperative learning/CL).
Yakni pembelajaran yang sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain. Kemudian mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pemberian tugas, dan rasa senasib.

Siswa dilatih dan dibiasakan saling berbagi pengetahuan, pengalaman, tugas, dan tanggung jawab. Kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling menbantu mengontruksi konsep. Lalu menyelesaikan persoalan dengan anggota kelompok sebanyak empat sampai lima orang siswa.

Kedua, guru memberi tugas kepada siswa. Ketiga, guru memberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik per kupon pada tiap siswa. Keempat, guru meminta siswa menyerahkan kupon terlebih dahulu sebelum berbicara atau memberi komentar. Setiap tampil berbicara, siswa mendapatkan satu kupon. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lainnya. Siswa yang habis kuponnya tidak boleh berbicara lagi. Siswa yang memegang kupon harus berbicara sampai semua kupnnya habis. Demikian seterusnya sampai semua anak menyampaikan pendapatnya. Kelima, guru memberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan tiap siswa.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Hal yang sama dari langkah-langkah pembelajaran di atas juga dikemukakan oleh Huda (2013). Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe time token adalah model pembelajaran kooperatif yang menuntut partisipasi siswa dalam kelompok untuk berbicara (mengeluarkan ide atau gagasannya). Yakni dengan diberi kupon berbicara, sehingga semua siswa harus berbicara. Maka dari itu siswa tidak ada yang mendominasi atau diam sama sekali dalam pelaksanaan diskusi. (*)