Upaya Sekolah dalam Mencegah Human Trafficking pada Anak

Oleh: Septi Puji Astuti,S.Pd.SD
Guru SDN 03 Asemdoyong, Kec. Taman, Kabupaten Pemalang

ANAK merupakan salah satu anggota komunitas yang memiliki posisi paling lemah dan rentan. Menurut Undang-Undang RI nomor 3 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Selamat Idulfitri 2024

Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28B ayat (2) menyebutkan, setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari Kekerasan dan diskriminasi. Dalam Undang-Undang Pelindungan Anak No. 23 Tahun 2002 pada pasal 1 ayat 12, dijelaskan hak-hak anak yang merupakan bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi. Yakni oleh orang tua, keluarga, masyarakat, negara, pemerintah, dan pemerintah daerah. Hak anak juga di lampirkan dalam pasal 9 ayat 1 dan 1a. Yaitu setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakat.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Namun yang terjadi, kasus demi kasus terus ada di seluruh penjuru negeri. Mulai dari pelecehan seksual, bullying, penganiayaan, trafficking, eksploitasi, sampai pembunuhan. Fenomena kekerasan terhadap anak sering kita dengar dan lihat diberbagai media. Maraknya perdagangan anak saat ini menuai keprihatinan kita bersama.

Department of State, USA (2010) menyebutkan bahwa perdagangan manusia/human trafficking  merupakan bentuk lain dari praktek perbudakan di zaman modern. Pemberantasan praktek perbudakan modern di berbagai negara berkembang mengalami kendala yang sangat berarti.  Setidaknya terjadi ketimpangan yang sangat lebar antara praktek human trafficking di satu sisi, dengan minimnya pemahaman masyarakat akan praktek perdagangan manusia di sisi yang lain.

Menurut Undang-Undang Tindak Pidana Perdagangan Orang pasal 1 ayat 1, pengertian perdagangan manusia adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan atau penerimaan orang dengan ancaman kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang, member bayaran atau manfaat. Sehingga memperoleh persetujuan dari orang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara. Yakni untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi. Menurut defnisi di atas, setidaknya terdapat tiga elemen pokok suatu kejahatan dapat dikatakan sebagai human trafficking.

Pertama, merekrut, mengangkut, menyembunyikan, dan menerima. Kedua,  cara mengendalikan korban melalui ancaman, tindak kekerasan, penculikan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau pemberian/penerimaan keuntungan untuk memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali korban. Ketiga, elemen tujuan. Yakni untuk eksploitasi, seperti eksploitasi seksual, kerja paksa, perbudakan, dan pengambilan organ tubuh.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Michele A.Clark (2008), dalam salah satu laporan  PBB An Introduction to Human Trafficking: Vulnerability, Impact and Action  menyebutkan bahwa mencegah kejahatan serta menurunkan kadar kerentanan mewakili pendekatan yang benar dalam memerangi praktek kejahatan perdagangan manusia. Sekolah dapat mengambil peran aktifnya melalui kerja sama dengan instansi pemerintah yang mengurusi perdagangan manusia. Bisa juga melalui LSM-LSM baik dalam negeri maupun luar negeri yang bergerak di bidang human trafficking. Yakni untuk mensosialisasikan pencegahan, tentunya dengan menyesuaikan dengan kondisi kerentanan masyarakat setempat terhadap praktek kejahatan human trafficking.

Dalam banyak kasus seperti apa yang sering kita saksikan di media massa, salah satu cara yang digunakan oleh perekrut supaya menggiur dan menipu seseorang agar mereka menjadi korban human trafficking adalah janji palsu untuk pekerjaan yang enak dengan gaji yang tinggi. Untuk itulah, sekolah sudah saatnya memberikan pencerahan kepada anak didik mengenai berbagai modus praktek human trafficking. Sehingga para peserta didik dapat mengenal dan meningkatkan kewaspadaan terhadap segala bentuk kejahatan tersebut. (*)