Meningkatkan Pemahaman Sistem Koordinat melalui Permaian Bola Kartesius

Oleh: Masis, S.Pd.SD
Guru SDN 4 Mangunrejo, Kec. Pulokulon, Kabupaten Grobogan

PADA hakikatnya, matematika telah berurat berakar dalam setiap sendi kegiatan manusia. Dari dunia kehidupan sehari-hari sampai penelitian lanjut oleh para ahli dalam berbagai bidang. Kita semua adalah ahli matematika menurut ukuran kita masing-masing. Kita menggunakan ilmu hitung dalam kehidupan kita, untuk mengetahui waktu kita menggunakan jam tangan atau jam dinding. Kemudian ketika kita menghitung harga pembelian dan uang kembali yang harus kita terima, mencatat nilai dalam permainan tenis, sepak bola, bulu tangkis, dan sebagainya.

Selamat Idulfitri 2024

Dari pengalaman di lapangan, diantara seluruh mata pelajaran, pelajaran matematika lah yang paling mudah diajarkan. Selain bahasa Indonesia, pelajaran matematika diberikan porsi waktu yang lebih banyak dibanding dengan mata pelajaran lain. Pengalaman menunjukkan, nilai matematika justru menempati posisi paling rendah di rata–rata kelas, jika dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kemudahan penyajian pembelajaran yang disampaikan oleh guru.

Menurut sebagian besar teman guru, pembelajaran yang paling mudah dan sering dilaksanakan adalah matematika. Dibanding dengan pembelajaran mata pelajaran lain,  dalam  pembelajaran matematika guru mudah memberikan aktivitas pada siswa. Karena dalam pembelajaran matematika, siswa dapat diaktifkan melalui penyelesaian soal. Namun demikian bila tidak didahulu dengan penguasaan konsep, maka pembelajaran matematika akan justru mengalami kesulitan.

Matematika sebagai salah satu ilmu dasar dewasa ini telah berkembang amat pesat, baik materi maupun kegunaannnya. Dengan demikian, setiap penyusunan atau penyempurnaan kurikulum matematika (kurikulum berbasis kompetensi) perlu selalu mempertimbangkan perkembangannya. Baik pengalaman masa lalu maupun kemungkinan masa depan.

Matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, dan eksperimen sebagai alat pemecahan masalah melalui pola pikir dan model matematika. Kemudian sebagai alat komunikasi melalui simbol, tabel, grafik, diagram dalam menjelaskan  gagasan. Tujuan pembelajaran matematika adalah melatih cara berpikir sistematis, logis, kritis, kreatif, dan konsisten.

Pembelajaran yang efektif dapat menghantarkan siswa mencapai kompetensi yang diharapkan. Kompetensi ini terkandung dalam tujuan pendidikan nasional, yang seterusnya dijabarkan dalam tujuan-tujuan yang lebih rendah jenjangnya. Yaitu tujuan institusional (SD, SMP, SMA, dan PT) dan tujuan kurikuler (mata pelajaran, mata kuliah) (Depdiknas, 2006:1).

Apabila dalam pembelajaran guru hanya memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca, mendengarkan atau mengamati suatu kejadian, maka guru tersebut belum menerapkan konsep belajar melalui pengalaman dalam pembelajarannya. Sesuai dengan Bab II Pasal 3 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), mengamanatkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia. Lalu cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis secara bertanggungjawab.

Potensi peserta didik perlu dikembangkan sejak mereka memasuki pendidikan dasar. Proses pembelajaran sebagai salah satu upaya pengembangan potensi peserta didik dilakukan melalui berbagai mata pelajaran. Rendahnya prestasi siswa dalam materi titik koordinat. Yaitu siswa tidak banyak terlibat dalam pembelajaran. Kebanyakan hanya menjadi pendengar, siswa tidak mau bertanya bila ada kesukaran, jika ditanya tidak menjawab, serta tidak dapat menyelesaikan soal tepat waktu. Sehingga hasil ulangan siswa sangat rendah.

Secara singkat, dapat dikatakan bahwa kekurangberhasilan siswa disebabkan oleh proses pembelajaran yang belum efektif. Hal ini tampak dalam guru menjelaskan materi, tidak memanfaatkan alat peraga yang sesuai dan kurang melibatkan siswa. Untuk itu, perlu dirancang media pembelajaran yang dapat melibatkan siswa dalam proses pembelajaran yang menyenangkan. Media tersebut adalah permainan bola kartesius. (*)