Asyiknya Belajar Bilangan Bulat dengan Biji Tasbih

Oleh: Iwan Kuntoro, S.Pd.SD
SDN 02 Sitemu, Kec. Taman, Kab. Pemalang

MATEMATIKA seringkali menjadi mata pelajaran yang menakutkan bagi banyak siswa. Mereka meyakini bahwa materi matematika sangat sulit, rumit, dan tidak menarik untuk dipelajari. Selain itu, materi matematika bukanlah materi yang dipelajari karena ingin tahu. Menurut Soedjad (1999), hakikat matematika muncul dari kenyataan bahwa objek pada dasarnya abstrak. Jadi fakta, konsep, operasi, dan prinsip abstraksi matematika lainnya tidak mudah, yang membuat belajar matematika sulit dan kurang menarik bagi anak-anak. Keterampilan belajar matematika harus dilandasi pemahaman. Oleh karena itu, dibutuhkan cara dan metode yang menarik untuk bisa belajar matematika dengan mudah. Guru dapat menemukan metode atau model dan teknik penyelesaian yang sederhana dan mudah dipahami oleh siswa.

Mengembangkan latihan matematika dapat mencakup semua keterampilan dasar, salah satu materi yang belum dipahami oleh siswa kelas 6 SDN 02 Sitemu Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang adalah materi tentang Operasi Hitung Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat. Pemahaman siswa pada materi tersebut masih lemah. Untuk membantu siswa memahami materi dalam pembelajaran, guru menggunakan media biji tasbih pada penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat sebagai konsep dasar.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Selama pembelajaran berlangsung, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 5 siswa. Langkah pembelajaran selanjutnya adalah memanggil salah satu siswa perwakilan tiap kelompok maju kedepan untuk diajarkan cara menggunakan biji tasbih dalam penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Langkah selanjutnya siswa diminta untuk mengeluarkan dua jenis biji tasbih yang berbeda.

Jenis atau warna biji tasbih pertama dianggap sebagai bilangan bulat positif dan jenis atau warna tasbih yang kedua sebagai bilangan bulat negatif. Sebagai contoh 5 + (-8), maka siswa akan mengambil biji tasbih yang positif sebanyak lima buah dan mengambil delapan biji tasbih yang negatif. Kemudian siswa memasangkan biji tasbih tersebut. Sebagai hasilnya adalah biji tasbih yang tidak memiliki pasangan, ternyata diperoleh hasil tiga biji tasbih yaitu negatif tiga yang tidak memiliki pasangan. Biji tasbih itulah yang merupakan hasil penjumlahannya. Langkah tersebut diulangi dengan contoh bilangan yang lain sampai anak memahami konsepnya.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Setelah perwakilan dari kelompok masing-masing memahami Konsep Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Positif dan Negatif, kemudian siswa tersebut kembali pada kelompoknya. Yakni untuk menularkan konsep tersebut kepada anggota kelompoknya sampai terkuasainya konsep tersebut. Selama proses pembelajaran berlangsung siswa terlihat sangat antusias, senang, dan cepat memahami materi.

Ketika dianggap cukup, guru mengajukan soal-soal latihan penjumlahan bilangan bulat, dan ternyata hasilnya sangat memuaskan. Hampir semua siswa mengalami peningkatan secara signifikan. Mereka tampak tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal latihan. Para siswa sangat menikmati dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Mereka terlihat santai. Tidak seperti sebelumya yang terlihat pasif dan kurang senang ketika ada jadwal pelajaran matematika.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Pembelajaran menjumlahkan dan mengurangkan bilangan bulat dengan menggunakan media biji tasbih terbukti sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa. Selain itu mengatasi kemampuan awal siswa yang kurang baik dalam belajar berhitung bilangan bulat dengan cara memasangkan biji tasbih. Upaya yang sangat sederhana namun sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan siswa. Sebagai seorang guru, kita harus mencari cara yang paling sederhana dan mudah agar siswa tidak memiliki masalah dalam memahami apa yang mereka pelajari. (*)