Mudah Pahami Pecahan Sederhana dengan Koopi Mama

Oleh: Nanik Suwarni, S.Pd.SD
Guru Kelas SD N Sedo 2, Kec. Demak, Kab. Demak

PECAHAN sederhana merupakan salah satu materi pada muatan pelajaran matematika kurikulum 2013 di kelas 3 sekolah dasar. Islam, S (2017: 99) berpendapat bahwa kurikulum 2013 adalah kurikulum dari hasil review kurikulum sebelumnya. Dengan tujuan mempersiapkan manusia Indonesia memiliki kemampuan hidup sebagai warga negara Indonesia yang beriman, produktif, kreatif, inovatif dan afektif. Selain itu dapat berpartisipasi pada kehidupan masyarakat, bangsa, negara, dan dunia.

Muatan pelajaran matematika, merupakan mata pelajaran yang membahas masalah tentang kemampuan menambah, mengurangi, mengalikan. Kemudian membagi, mengukur dan memahami bentuk geometri yang perlu diberikan kepada semua siswa. Kondisi nyata di kelas 3 SD Negeri Sedo 2, sebagian besar siswa kesulitan memahami materi pecahan sederhana, dikarenakan rendahnya motivasi mereka.

Siswa menganggap suatu muatan pelajaran itu susah diantaranya adalah matematika. Siswa kelas 3 yang termasuk kategori anak berusia 9 tahun memiliki kodrat diri yang masih senang bermain. Maka tugas kita sebagai guru adalah merubah pola belajar siswa dengan menyamakan perkembangan umur siswa. Siswa kelas 3 tidak bisa menerima pola belajar seperti siswa kelas tinggi. Melihat keadaan ini, maka saya sebagai guru berupaya mencari metode pembelajaran inovatif untuk meningkatkan motivasi belajar dan pemahaman siswa. Salah satunya dengan menerapkan metode kooperatif tipe make a match (Koopi Mama). Yakni adalah suatu model pembelajaran dimana guru menyiapkan kartu yang berisi soal atau permasalahan dan menyiapkan kartu jawaban kemudian siswa mencari pasangan kartunya (Suyatno dalam Rahyuni Sang A.P, dkk., 2014: 3).

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Model pembelajaran kooperatif tipe make a match pada pembelajaran matematika dapat menciptakan suasana persaingan yang sehat diantara siswa. Persaingan tersebut dilakukan ketika siswa mencari kartu jawaban yang dipegang oleh siswa lain, kemudian memasangkan kartu soal dan kartu jawaban tersebut.

Langkah-langkah pembelajaranya adalah sebagai berikut. Pertama, guru menyiapkan beberapa kartu yang berisikan materi yang diajarkan. Satu sisi kartu soal dan sisi sebaliknya berupa kartu jawaban. Kedua, setiap siswa mendapat satu kartu kemudian siswa memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang. Ketiga, siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal atau kartu jawaban). Keempat, siswa dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu pemberian poin. Kelima, setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. Demikian seterusnya. Keenam, kesimpulan.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Kelebihanya yaitu dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, baik secara kognitif maupun fisik. Karena ada unsur permainan, metode ini menyenangkan. Kemudian meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, efektif sebagai sarana melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi. Lalu efektif melatih kedisiplinan siswa menghargai waktu untuk belajar.

Kekuranganya yaitu jika metode ini tidak dipersiapkan dengan baik, akan banyak waktu yang terbuang. Pada awal-awal penerapan metode, banyak siswa yang akan malu berpasangan dengan lawan jenisnya. Berikutnya, jika guru tidak mengarahkan siswa dengan baik, akan banyak siswa yang kurang memperhatikan pada saat presentasi pasangan. Selanjutnya, guru harus hati-hati dan bijaksana saat memberi hukuman pada siswa yang tidak mendapat pasangan, karena mereka bisa malu. Selain itu, menggunakan metode ini secara terus menerus akan menimbulkan kebosanan.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, penerapan Koopi Mama di kelas 3 SD Negeri Sedo 2 nyatanya dapat meningkatkan motivasi belajar. siswa lebih antusias dan sungguh-sungguh mengikuti pembelajaran pecahan sederhana. Hal ini tentu saja berimbas pada peningkatan pemahaman siswa terhadap materi pecahan sederhana. (*)