Penguatan IPAS Sub Materi IPS dengan Alat Peraga

Oleh: Nur Susanti, S. Pd. SD
Guru SDN 01 Pamutih, Kec. Ulujami, Kab. Pemalang

PARADIGMA ilmu pengetahuan alam sosial (IPAS), khususnya IPS merupakan mata pelajaran hafalan atau ingatan masih perlu kajian pembelajaran mendalam. Hal ini disebabkan oleh keluasaan materi mata pelajaran ini. Di SDN 01 Pamutih, khususnya kelas IV, pada mata pelajaran IPAS sub materi sosial, terdapat kendala dalam proses pembelajaran.

Selamat Idulfitri 2024

Untuk meningkatkan penguasaan materi IPAS sub materi Ilmu Sosial perlu inovasi pengembangan model pembelajaran yang pas dan tepat situasional. Hasil interaksi pembelajaran yang diinginkan adalah adanya perubahan tingkah laku siswa dalam belajar. Tingkah laku sebagai hasil pembelajaran sangat dipengaruhi oleh dua faktor yang menentukan. Di antaranya faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar siswa. Satu diantara beberapa faktor dari dalam siswa yang ikut berperan aktif adalah emosi. Sedangkan faktor dari luar siswa yang menonjol adalah instrumen input berupa alat bantu pengajaran.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Proses pembelajaran akan berjalan baik dan sukses apabila alat bantu yang digunakan dapat mengkomunikasikan secara efektif dan tepat antara guru dan siswa. Dalam diri siswa yang paling berperan menentukan agar interaksi tersebut berlangsung lebih komunikatif adalah adanya emosi diri. Adanya modalitas tersebut, siswa dapat memahami informasi yang datang dan dapat menyampaikan idenya kembali. Kemudian mengorganisasikan kata-kata, serta mengenal istilah nama-nama tokoh pergerakan nasional. Selanjutnya siswa akan mampu menguatkan ingatan otaknya sehingga ilmu yang dipelajari mudah untuk diterima dan dimunculkan kembali.

Pada saat yang dinantikan, hasil belajar siswa akan lebih meningkat. Peningkatan hasil belajar siswa tersebut bagi diri siswa akan dijadikan pijakan kembali untuk terus belajar seoptimal mungkin. Alat peraga atau media sumber belajar harus dikembangkan untuk tercapainya hasil yang optimal. Hal ini seperti apa yang dikatakan Iskandar dan Mustaji (1989:1). Alat peraga adalah semua atau segala sesuatu yang bisa digunakan dan dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan konsep-konsep pembelajaran dari materi yang bersifat abstrak atau kurang jelas menjadi nyata dan jelas. Sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian serta minat para siswa yang menjurus ke arah terjadinya proses belajar mengajar.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Penggunaan alat peraga mempunyai tujuan untuk memberikan wujud riil terhadap bahan yang dibicarakan dalam materi pembelajaran. Alat peraga, yang dipakai dalam PBM dalam garis besarnya memiliki manfaat menambahkan kegiatan belajar para siswa, menghemat waktu belajar. Kemudian memberikan alasan yang wajar untuk belajar. Sebab dapat membangkitkan minat dan perhatian dan aktivitas para siswa.

Dalam usaha meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil pembelajar, kita tidak boleh melupakan satu hal yang sudah pasti kebenarannya. Yaitu bahwa belajar harus banyak berinteraksi dengan sumber belajar yang memadai. Atas dasar itu, beberapa alat peraga atau media IPAS untuk sub materi IPS sangatlah perlu diaplikasikan dalam setiap pelaksanaan pembelajaran di sekolah dasar.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Adapun alat peraga atau media IPS dapat berupa peta, atlas, globe, plenatarium, solar sistem, dan gambar-gambar. Seperti gambar pahlawan, rumah adat, lingkungan sekitar, alat peraga buatan siswa atau guru, dan sebagainya. Dengan menggunakan alat peraga atau alat bantu, dapat diperoleh hasil belajar yang lebih menggembirakan. Karena dengan penggunaan alat peraga dapat memudahkan guru dalam menyampaikan informasi secara cepat dan lebih konkret.

Maka, penggunaan alat peraga atau alat bantu pembelajaran untuk membantu siswa dalam memahami pokok-pokok materi pelajaran yang diajarkan dinilai lebih penting. Yakni jika dibandingkan dengan cara pembelajaran melalui ceramah. Bila terpaksa alat peraga tidak ada, maka guru perlu membuat/memodifikasi sendiri alat bantu belajar. (*)