Sultan Minta Pengusaha Beri Upah Perajin Lebih Baik

  • Bagikan
RAJIN: Perajin menyelesaikan pembuatan penutup kepala tradisional (blangkon) gaya Yogyakarta di Desa Beji, Sidoarum, Godean, Sleman, Yogyakarta, beberapa waktu lalu. (ANTARA/JOGLO JOGJA)

YOGYAKARTA, Joglo Jogja – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta pengusaha produk kerajinan baik perhiasan maupun batik, memberikan upah yang lebih baik kepada para perajin lokal di wilayahnya. Permintaan tersebut didasarkan atas keprihatinannya kepada para perajin, dengan harapan dapat meningkatkan pendapatan mereka.

Menurut Sultan, jika upah yang didapatkan para perajin di DIY masih kecil, maka regenerasi sulit dilakukan. Hal itu menyebabkan para perajin hanya diisi oleh para orang tua.

“Selama para pengusaha itu bikin kain batik dari apa pun, entah sutera atau katun untuk perhiasan, untuk aksesori itu tetap penghasilannya kecil, saya yakin yang kerja hanya orang tua, tidak akan ada pemuda yang mau (menjadi perajin, red),” kata Sultan.

Padahal menurut dia, pada tahun ini Pemda DIY memproyeksikan bisnis fashion yang juga mencakup aneka produk kerajinan meliputi batik, perhiasan, hingga aksesori bakal mampu mendorong pertumbuhan ekonomi DIY. Ia menilai bisnis itu memiliki potensi cukup besar untuk terus tumbuh dan berkembang di wilayahnya.

Fashion itu tidak sekadar kita bicara baju atau celana. Fashion itu ya kelengkapan dari itu, ada sepatu, kaus kaki, kalau ibu-ibu ya ada aksesori, perhiasan, ada tas, topi, ada gift entah dari rotan, kayu atau besi. Potensi itu di Yogyakarta sengat besar,” ujar dia.

Karena itu, ia berharap kalangan pengusaha atau pedagang produk kerajinan, termasuk yang ada di Teras Malioboro 1 maupun 2 memiliki kesadaran untuk ikut meningkatkan kesejahteraan para perajin. Tanpa memperhatikan hal itu, Sultan khawatir usaha aneka produk kerajinan di provinsi ini lambat laun akan mati karena tidak ada regenerasi.

“(Pengusaha, red) jangan mau untung sendiri, dijual jutaan tapi memberikan upah relatif kecil. Maka makin lama bukan tumbuh, tapi akan mati karena tidak ada orang muda yang mau menggantikan karena upah yang tidak memungkinkan,” tutur Sultan. (ara/abd)

  • Bagikan