Gedor Berfikir Holistik Siswa pada Pembelajaran Tematik dengan Teknik Reward

Oleh: Indah Khikmawati, S.Pd
Guru SD N 02 Tambakrejo, Kec. Pemalang, Kab. Pemalang

PEMBELAJARAN tematik di SD Negeri 02 Tambakrejo di temukan keunikan, bahwa siswa dapat merefleksikan dunia nyata yang dihadapi di rumah dan lingkunganya. Hal ini disebabkan karena siswa menerima banyak hal dalam pengolahan pembelajaran, lalu merangkumnya menjadi satu kesatuan yang utuh. Sehingga mengajarkan siswa berpikir secara holistik terpadu yang sejalan dengan perkembangan peserta didik dalam mengolah informasi.

Selamat Idulfitri 2024

Pembelajaran tematik integratif mengintegrasikan berbagai kompetensi dari mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Diwujudkan dalam integrasi sikap, keterampilan, dan pengetahuan dalam proses pembelajaran serta integrasi berbagai konsep dasar yang terkait. Sehingga peserta didik tidak belajar konsep dasar secara parsial.

Salah satu kompetensi yang harus dikuasi oleh peserta didik kelas 1 dalam pembelajaran tematik integratif adalah kompetensi pengetahuan bahasa Indonesia. Haryati (2007: 3) menyebutkan bahwa kompetensi merupakan pengetahuan (kognitif), sikap, dan nilai-nilai (afektif) dan keterampilan (psikomotorik) yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Sehingga mampu menghadapi persoalan yang dialami.

Kompetensi pengetahuan masuk dalam ranah kompetensi inti yang ketiga. Digunakan sebaga dasar penilaian untuk mengetahui apakah peserta didik telah mencapai ketuntasan belajar, mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan proses pembelajaran dan untuk perbaikan mutu pembelajaran.

Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu. Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Alternatif cara yang dapat ditempuh berkaitan dengan inovasi tugas mengajar guru adalah guru hendaknya mempunyai kemampuan dalam mengembangkan strategi mengajarnya.

Guru hendaknya dapat memilih strategi mengajar yang dianggap sesuai dengan materi yang diajarkan agar kegiatan belajar mengajar di kelas dapat berlangsung secara efektif, efisien dan tidak membosankan. Penulis merasa masih ada kekurangan dalam pembelajaran tematik integratif pada kompetensi pengetahuan bahasa Indonesia tema Lingkungan Bersih, Sehat dan Asri. Karena belum menggunakan strategi pembelajaran yang tepat dan sesuai serta menarik dan menantang keaktifan siswa.

Untuk meningkatkan kompetensi pengetahuan bahasa Indonesia tema Lingkungan Bersih, Sehat dan Asri dalam pembelajaran tematik, penulis menggunakan teknik reward. Purwanto (2002:182) menyatakan reward sebagai alat untuk mendidik anak-anak supaya merasa senang karena perbuatan atau pekerjaannya mendapat penghargaan. Dengan adanya reward, akan menumbuhkan keinginan siswa untuk mengulangi perbuatannya tersebut agar mendapatkan penghargaan.

Usman (2006:80) membedakan reward menjadi dua jenis. Yaitu verbal yang biasanya diungkapkan melalui kata-kata seperti pujian, penghargaan, persetujuan, dan sebagainya, dan non verbal atau gerak isyarat. Misal anggukan kepala, senyuman, kerut kening, acungan jempol, dan simbol atau benda dengan cara menggunakan benda bergambar, bintang atau komentar tertulis di buku siswa.

Dalam teknik reward ini, yang dapat dilakukan guru adalah memberikan stimulus atau rangsangan kepada siswa agar siswa mempunyai keinginan untuk melakukan aktivitas belajar dengan lebih giat dan semangat. Pemberian rangsangan ini mengacu pada teori belajar behavioristik Skinner. Belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon (Uno, 2013:13). Ketika stimulus yang diberikan kepada siswa yang berupa reward ini berhasil, maka respon yang diharapkan akan menumbuhkan motivasi belajar siswa. Sehingga berdampak pada hasil belajar siswa yang meningkat.

Teknik reward dalam pembelajaran melibatkan murid sebagai komponen sistem, dapat menstimulasi dan memotivasi murid. Kemudian melatih mereka agar kritis dalam menganalisa dan mengembangkan kemampuan belajar. Siswa juga banyak diberi kesempatan untuk berani menyampaikan pendapat dan terbuka terhadap perbedaan pendapat yang diberikan temannya. (*)