Tingkatkan Pemahaman Materi IPS Sejarah Kemerdekaan Indonesia dengan Metode Resitasi

Oleh: Sri Rahayuni, S.Pd.
Guru IPS SMP N 2 Sayung, Kab. Demak

PELAJARAN sejarah memiliki peran dan fungsi yang tidak diragukana lagi dalam setiap kehidupan individu bagi berbangsa maupun bernegara. Dengan mempelajari sejarah, seseorang diharapkan memiliki pengetahuan tentang sejarah masa lalu dengan baik. Sehingga bisa mengambil pelajaran yang dapat digunakan sebagai landasan berfikir. Yakni tentang bagaimana seseorang sebaiknya mengambil sikap, bertindak, dan merancang masa depannya untuk dapat bertindak bijaksana.

Selamat Idulfitri 2024

Berdasarkan peran dan fungsi tersebut, maka pelajaran sejarah merupakan pelajaran yang sangat penting untuk dipelajari, menarik, dan tidak membosankan. Namun, faktanya di sekolah-sekolah, pelajaran sejarah justru menjadi sesuatu hal yang kurang menyenangkan dan cenderung membosankan (I Putu Gede Suwita, dalam Sutanto, 1999).

Rendah dan tingginya hasil belajar menurut Sudjana (2005: 39) dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri peserta didik dan luar atau lingkungan. Faktor dari dalam peserta didik misalnya motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, serta fisik dan psikis. Faktor dari luar atau lingkungan dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran. Sehingga pendidik memiliki peran penting dalam mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Salah satunya adalah metode yang digunakan oleh pendidik dalam pembelajaran di kelas.

Guru dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam menerapkan metode pembelajaran. Salah satunya adalah dengan menerapkan metode resitasi, supaya peserta didik tidak bosan dan mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Menurut Nana Sudjana, metode resitasi tidak sama dengan pelajaran atau tugas rumah, tetapi jauh lebih luas daripada itu. Tugas dapat merangsang peserta didik lebih aktif belajar baik secara individu maupun kelompok.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Azwan Zain, metode penyajian bahan, dimana guru memberikan tugas tertentu agar peserta didik melakukan kegiatan belajar yang dapat dilakukan dalam kelas, di halaman sekolah. Selain itu di laboratorium, di perpustakaan, di rumah, dan pada lingkungan sekolah lainnya yang mendukung atau dimana saja asal peserta didik dapat menyelesaikan tugas dengan baik (2006:85).

Adapun langkah-langkah metode resitasi adalah sebagai berikut. Pertama, fase pemberian tugas. Kedua, fase pelaksanaan tugas. Ketiga, fase mempertanggungjawabkan tugas (Djamarah dan Zain, 2006:88). Dengan demikian, peserta didik diberikan tugas tertentu untuk diselesaikan secara mandiri dengan mengeksplorasi semaksimal mungkin kemampuan yang dimiliki oleh masing masing. Kemudian pada akhirnya harus dipertanggungjawabkan dengan mempresentasikan di depan kelas.

Tahapan-tahapan belajar dengan metode resitasi menunjukkan proses pembelajaran yang bervariasi. Secara umum, langkah-langkah tersebut dapat memberikan dampak terhadap peningkatan keaktifan dan hasil belajar peserta didik. Metode resitasi merupakan salah satu model pembelajaran yang tepat diterapkan dalam mempelajari materi Sejarah Masa Kemerdekaan Indonesia Beserta Tokoh-tokohnya.

Dengan menerapkan metode pembelajaran resitasi pada materi Sejarah Masa Kemerdekaan Indonesia pada kelas IX SMP N 2 Sayung Demak dapat memberikan dampak terhadap peningkatan keaktifan dan hasil belajar peserta didik. Sehingga hasil belajar dapat diingat lebih lama dan hasil belajarnya dan tidak mudah dilupakannya. Terutama sekali dalam meneladani tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam kemerdekaan Indonesia.

Kelebihan metode resitasi adalah pengetahuan peserta didik dari hasil belajar mandiri akan lebih membekas dalam ingatannya dan dapat diingat lebih lama. Karena peserta didik dapat mendalami materi sesuai karakteristik belajar masing-masing. Adapun kekurangan metode resitasi masih dimungkinkan adanya peserta didik yang hanya meniru hasil pekerjaan peserta didik lain. Masih dimungkinkan juga tugas dikerjakan oleh peserta didik lain atau orang lain tanpa pengawasan. Di samping itu, tidak mudah memberikan tugas yang memenuhi perbedaan siswa secara individual. (*)