Tanamkan Jiwa Leadership sejak Dini

PEDULI: Siswa SDIT LHI saat melaksanakan kegiatan Little Leaders Love the Earth di Bhumi Merapi, Sleman, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA/JOGLO JOGJA)

PENGAJARAN tentang kepemimpinan sejak dini sangat diperlukan. Hal ini yang terus dilakukan oleh guru SDIT LHI.

Kepala Bagian Kesiswaan SDIT LHI Miratun Khasanah mengatakan, pada dasarnya setiap anak memiliki potensi menjadi seorang pemimpin. Sehingga, keterampilan memimpin pada anak harus diterapkan sejak dini. “Ini sebagai landasan yang kokoh untuk mewujudkan mimpi serta tujuan hidupnya kelak,” katanya, belum lama ini.

Jiwa kepemimpinan pada anak dapat melatih rasa tanggung jawab, disiplin, dan ketekunan.  Yang selanjutnya akan bermanfaat untuk masa depan anak. Untuk mendasari hal itu, SDIT LHI mencetuskan program Leadership Class. Program ini semacam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di SMP.

Baca juga:  Progres ITF Bawuran Mencapai 45 Persen

Dengan adanya kelas kepemimpinan itu, anak akan berlatih kemandirian dan tanggung jawab. Di dalamnya dibagi menjadi beberapa kelas. “Ada plotting kelas di Leadership Class ini. Ada divisi jurnalis, shooting , polisi cilik, dan ada juga divisi peduli lingkungan,” ungkapnya.

Dalam pengembangan leadership, akan ada pameran akhir. Tema akan dikumpulkan di sekolah dan dipajang. Pengembangan leadership yang terus dikampanyekan adalah kepedulian lingkungan. Itu dinilai penting mengingat sebagai salah satu pendidikan karakter.

“Sebagai penunjang, kita sediakan beberapa tong sampah. Ada juga tong sampah khusus botol,” terangnya.

Baca juga:  Bantul-Kota Sepakati Olah Sampah Bersama di ITF Bawuran

Bukan hanya peduli lingkungan, kreativitas masing-masing siswa juga terus didorong. Sekolah juga membentuk polisi cilik untuk membantu kerapian, dan kedisiplinan. Siswa selalu diminta untuk observasi masalah yang timbul di sekolah. Selanjutnya diolah anak-anak dengan didampingi oleh guru.

Kreativitas lain adalah wadah bagi anak-anak gemar menulis. Sekolah menyediakan majalah dinding dan buletin. Terlebih, dalam mengikuti dunia digital, siswa diajarkan untuk membuat flyer, video pendek seputar kegiatan sekolah.

“Hasil anak-anak nanti disampaikan ke humas. Dari sini anak-anak bisa berkarya. Untuk dilibatkan pengisian konten sosial media sekolah,” jelasnya.

Baca juga:  HUT Ke 64, SMPN 2 Kudus Galakkan Empat Program Literasi

Dari kegiatan itu, anak-anak diharapkan menemukan bakat masing-masing. Sehingga tidak ada paksaan. “Mereka akan lebih kreatif dan peduli. Tugas guru hanya mengarahkan dan mengawasi. Anak-anak ini seperti benih. Mereka bisa tumbuh sesuai fitrahnya masing-masing,” tutupnya. (cr5/abd)