Belajar IPS dengan Pembelajaran Koperatif Tipe NHT

Oleh: Jarwanto, S.Pd.
Guru SD N 1 Cilapar, Kec. Kaligondang, Kab. Purbalingga

GURU yang profesional pada hakikatnya adalah mampu menyampaikan materi pembelajaran secara tepat sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu berbagai latihan, penguasaan, dan wawasan dalam pembelajaran. Termasuk salah satunya menggunakan model dan metode pembelajaran yang tepat. Ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan salah satu cabang ilmu yang dipelajari sejak kita mengenal dunia dan tidak akan pernah berakhir untuk dipelajari. Karena IPS merupakan ilmu yang sangat dekat dengan keseharian kita. Sehingga baik secara formal maupun informal kita akan tetap mempelajarinya.

Hakikat IPS adalah telaah tentang manusia dan dunianya. Manusia sebagai makhluk sosial selalu hidup bersama dengan sesamanya. Tak lepas dari kehidupan manusia, ternyata kehidupan itu banyak aspeknya. Antara lain aspek hubungan sosial, ekonomi, psikologi, budaya, sejarah, dan sebagainya. Proses pembelajaran IPS masih sering dijumpai adanya kecenderungan siswa yang tidak mau bertanya kepada guru, meskipun mereka sebenarnya belum mengerti tentang materi yang disampaikan.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Tetapi ketika guru menanyakan bagian mana yang belum mereka mengerti, seringkali siswa hanya diam. Setelah guru memberikan soal latihan, barulah guru mengerti bahwa sebenarnya ada bagian dari materi yang belum di mengerti siswa. Selain itu, kenyataan yang ada di SDN 1 Cilapar, guru belum pernah mengenal pembelajaran kooperatif numbered heads together (NHT).Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus. Dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Pembelajaran ini salah satu tipe dari pembelajaran kooperatif dengan sintaks pengarahan, membuat kelompok heterogen, dan tiap siswa memiliki nomor tertentu.

Kemudian berikan persoalan materi bahan ajar. Untuk tiap kelompok sama, tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa. Tiap siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama. Lalu bekerja kelompok, presentasi  kelompok dengan nomor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing. Sehingga terjadi diskusi kelas dan kuis individual. Selanjutnya guru membuat skor perkembangan tiap siswa, dan mengumumkan hasil kuis. Berikutnya memberi reward untuk siswa (Ibrahim, 2000:28).

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Dalam pembelajaran IPS, anak belajar menggunakan keterampilan dan alat–alat studi sosial. Misalnya mencari bukti dengan berpikir ilmiah, keterampilan mempelajari data masyarakat, mempertimbangkan validitas, dan relevansi data. Lalu mengklasifikasikan dan menafsirkan data-data sosial serta merumuskan kesimpulan (Isjoni, 2011:23).

Menurut Trianto (2011:42), pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara kolaboratif untuk mencapai tujuan bersama. Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan, dan membuat keputusan kelompok. Di samping itu memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang  berbeda latar belakangnya.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Pembelajaran yang berlangsung di sekolah adalah adanya interaksi aktif antara siswa dan guru. Guru bukan hanya menjadi pusat dari kegiatan belajar mengajar, namun keterlibatan siswa aktif dan penggunaan sumber belajar menjadi hal yang tidak kalah pentingnya. Agar dapat memancing siswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Guru dituntut untuk lebih kreatif dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran. Di antaranya adalah dengan menguasai dan dapat menerapkan berbagai metode pembelajaran dan menggunakan berbagai sumber belajar yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Sehingga dapat tercipta kondisi pembelajaran yang baik di kelas dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai degan baik. Hal ini dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. (*)