Belajar Aksara Jawa Lebih Asyik dengan Model Couple Card

Oleh: Diyahtiningsih, S.Pd.SD
SD N 01 Jatiroyom, Kec. Bodeh, Kab. Pemalang

BAHASA Jawa merupakan salah satu dari sekian banyak bahasa daerah yang ada di Indonesia yang memiliki sistem keaksaraan khusus, yaitu aksara Jawa. Tidak diketahui secara pasti kapan aksara Jawa mulai dikenal dan digunakan untuk menyebarkan informasi. Tokoh yang disebut-sebut sebagai pencipta aksara Jawa menurut catatan sejarah popular dikutip dari buku Makna Simbolis Legenda Aji Saka yang ditulis oleh Slamet Riyadi adalah Aji Saka. Namun Aji Saka bukanlah pencipta aksara Jawa. Melainkan pembangun dan penyempurna aksara tersebut.

Menurut serat Aji Saka dalam kumpulan teks Suluk Plenceung koleksi Badan Perpustakaan Daerah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, setelah mendapat wejangan ilmu  kesempurnaan dari Begawan Antaboga, Aji pergi ke Mekah untuk berguru kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan perjumpaan itu, Aji Saka diminta untuk menciptakan aksara sebagai pertimbangan aksara Arab. Beliau kemudian menciptakan aksara ha-na-ca-ra-ka yang berjumlah dua puluh. Diperkirakan aksara tersebut diciptakan pada abad ketujuh.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Terlepas dari berbagai pendapat mengenai kapan aksara Jawa ini digunakan secara pasti, aksara Jawa merupakan salah satu warisan luhur kebudayaan yang harus dijaga dan dilestarikan. Aksara Jawa diajarkan di sekolah melalui muatan wajib belajar Jawa Tengah, yaitu dalam mata pelajaran bahasa Jawa. Namun, pembelajaran bahasa Jawa khususnya membaca dan menulis aksara Jawa dianggap sulit oleh sebagian besar siswa.

Selain bersifat lokal, pembelajaran tentang aksara Jawa oleh siswa dianggap kurang menarik untuk dipelajari. Bahkan tidak sedikit para guru yang mengeluhkan bahwa peserta didik cukup kesulitan dalam menghafalkan aksara Jawa, pasangan, aksara swara, aksara murda, dan aksara rekan.

Menjadi guru di era modern harus memiliki banyak ide kreatif untuk membuat pembelajatan lebih menyenangkan. Belajar dengan suasana yang menyenangkan akan membuat peserta didik menjadi lebih paham. Minimnya media pembelajaran seringkali menjadi salah satu penyebab pembelajaran menjadi kurang menarik dan membosankan. Sebagian besar para guru dalam pembelajaran aksara Jawa masih menggunakan cara-cara lama, seperti ceramah, latihan membaca, dan menulis saja. Sebagai seorang pendidik, penulis merasa prihatin dan tertantang untuk kreatif dan inovatif mengeksplorasi model-model pembelajaran yang dapat memotivasi siswa untuk aktif.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Salah satu model pembelajaran yang kreatif dan inovatif yang penulis kembangkan di Sekolah Dasar Negeri 01 Jatiroyom adalah model pembelajaran couple card atau kartu berpasangan. Langkah-langkah model pembelajaran couple card dalam pembelajaran aksara Jawa yaitu sebagai berikut. Pertama, guru menyiapkan kartu soal dan kartu jawaban berupa tulisan latin dan tulisan aksara Jawa. Kartu soal dan kartu jawaban sebaiknya dengan warna yang berbeda. Kedua, siswa dibagi menjadi dua, empat, atau enam kelompok. Masing-masing kelompok saling berhadapan. Kelompok yang satu memegang kartu soal, kelompok lain memegang kartu jawaban.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Ketiga, guru memberi bimbingan tentang cara kerja permainannya. Yaitu masing-masing kelompok nantinya diminta mencari dan menemukan pasangan kartu yang cocok. Keempat, apabila berhasil menemukan pasangan yang cocok antara kartu soal dan kartu jawaban akan diberi reward berupa bintang. Pasangan yang tidak cocok akan kehilangan bintang. Sebagai contoh mereka sudah mendapatkan reward lima bintang di hari sebelumnya, jika salah memasangkan kartu maka akan kehilangan satu bintang. Sehingga jumlahnya berkurang menjadi empat.

Kelima, kartu soal dan kartu jawaban masing-masing dikumpulkan jadi satu. Kemudian bersama-sama dengan guru, siswa mengulas kembali kartu soal dan kartu jawaban. Melalui penerapan model pembelajaran couple card dalam pembelajaran tentang aksara Jawa, ternyata siswa menjadi lebih aktif dan suasana belajar lebih menyenangkan. Siswa yang tadinya kurang tertarik belajar aksara Jawa menjadi antusias untuk mempelajarinya. (*)