Budaya  

Pantang Mencicip saat Memasak untuk Sadranan

BERSAMA-SAMA: Warga saat melakukan tradisi Sadranan duduk bersama di areal Makam Dusun Banyuurip, Desa Delik, Tuntang, Kabupaten Semarang pada Jumat (17/2). (HUMAS/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Ratusan orang warga, baik tua dan muda, nampak duduk bersama di areal Makam Dusun Banyuurip, Desa Delik, Tuntang, Kabupaten Semarang pada Jumat (17/2). Dengan membawa ambeng, yang berisi nasi dan aneka lauk pauk, mereka datang beramai-ramai untuk mengikuti tradisi Sadranan.

Tokoh masyarakat setempat Teguh Santoso menyampaikan, tradisi tersebut sudah dilaksanakan secara turun temurun. Yakni setiap Jumat Wage di bulan Rajab. Setiap kepala keluarga membawa ambeng berisi nasi dan aneka lauk, termasuk satu ingkung ayam.

Selamat Idulfitri 2024

“Ada pantangan, saat memasak makanan yang akan dibawa Sadranan, tidak boleh dicicipi,” terangnya.

Disampaikan, jika dia tidak tahu apa alasan pantangan itu. Namun, banyak warga yang masih mentaatinya.

Setelah warga berkumpul, lanjutnya, dibacakan doa bersama oleh tokoh agama setempat. Setelah itu, warga makan bersama di area makam.

“Ada pula yang membawa pulang ambengannya untuk dimakan di rumah,” kata Teguh.

Ia menambahkan, pada acara Sadranan inilah, banyak warga yang merantau ke luar daerah kembali ke Dusun Banyuurip. Bahkan suasana dusun lebih ramai dibandingkan saat lebaran. Warga Banyuurip memang melestarikan tradisi ini untuk menjaga silaturahmi.

Bupati Semarang melalui Camat Tuntang Budi Rahardjo mengajak warga untuk terus menjaga kerukunan. Perbedaan agama di antara warga, tidak menjadi alasan untuk tidak menjalin silaturahmi. (hms/mg4)