Meningkatkan Prestasi Belajar PPKn dengan Model Pembelajaran Kooperatif

Oleh: Nur Mahya, S.Pd
Guru SDN 04 Susukan, Kec. Comal Kab. Pemalang

PENDIDIKAN yang berkualitas sangat bergantung pada kemampuan tenaga pendidik dalam memberikan kompetensi kepada peserta didik. Pembelajaran akan efektif apabila melibatkan keaktifan siswa. Dimana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam pembelajaran agar tercipta pemahaman melalui pengalaman langsung, bukan melalui pembelajaran penghafalan. Dalam proses kegiatan belajar mengajar, guru harus mampu menciptakan komunikasi yang baik dan terarah.

Pada pembelajaran PPKn kelas II SD PPKn materi Hubungan Gambar pada Lambang Negara dengan sila-sila Pancasila, guru masih terpaku dengan buku teks dan LKS. Siswa lebih banyak mendengar dan menulis. Sehingga hanya bertumpu pada kemampuan penghafalan. Pembelajaran tersebut menjadikan peserta didik merasa jenuh. Terlihat beberapa siswa yang sedang bermain dan berbicara dengan teman sebangkunya. Hal tersebut menjadikan siswa kurang terdorong untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya dan memahami konsep yang sebenarnya. Untuk itu, penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe word square perlu digunakan dalam meningkatkan prestasi belajar peserta didik.

Menurut Djamarah (2012:19), prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. Sedangkan menurut Fathurrohman dan Sulistyorini (2012:119), prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai dari suatu kegiatan. Berupa perubahan tingkah laku yang dialami oleh subyek belajar didalam suatu interaksi dengan lingkungannya. Dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan sebuah hasil yang diperoleh ketika peserta didik telah melakukan suatu proses pembelajaran. Ditunjukkan dengan angka dan nilai sebagai laporan hasil suatu kegiatan belajar peserta didik kepada orang tuanya.

Model pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dengan serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh siswa di dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Menurut Rusman (2010:202), pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif. Anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.

Menurut Imas Kurniasih dan Berlin Sani (2015:18), model pembelajaran merupakan sebuah prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman untuk mencapai tujuan belajar dan dapat diartikan suatu pendekatan yang digunakan dalam suatu kegiatan. Menurut Ni Luh Sudani dkk (2014:4), model pembelajaran word square juga memadukan kemampuan menjawab pertanyaan dengan kejelian dalam mencocokkan jawaban pada kotak-kotak jawaban. Mirip seperti mengisi tekateki silang. Tetapi bedanya, jawabannya sudah ada. Namun disamarkan dengan menambah kotak tambahan dengan sembarang huruf penyamar atau pengecoh. Model pembelajaan yang memadukan kemampuan menjawab pertanyaan dengan kejelian dalam mencocokkan jawaban pada kotak-kotak jawaban.

Langkah-langkah dalam pembelajaran word square yaitu sebagai berikut. Pertama, guru menyiapkan materi hubungan gambar pada lambang negara dengan sila-sila Pancasila. Kedua, guru memberikan motivasi kepada siswa dengan menyanyi garuda Pancasila. Ketiga, guru menerangkan lambang-lambing sila Pancasila. Keempat, guru membagi beberapa kelompok dalam satu kelompok empat anak.

Kelima, guru membagikan lembar kerja berupa soal dan jawaban di dalam kotak yang terdapat banyak huruf yang teracak. Keenam, siswa diperintahkan untuk mengerjakan dan menjawab soal. Kemudian melingkari huruf dalam kotak sesuai jawaban secara vertikal, horizontal, maupun diagonal. Ketujuh, berikan poin pada setiap jawaban yang benar dalam kotak.

Hasilnya, prestasi belajar tercapai. Siswa banyak yang mendapatkan poin besar dan mampu menjawab soal dengan benar. Siswa aktif tidak bicara sendiri dan antusias dan kooperatif dalam kelompok tercipta. Model pembelajaran kooperatif tipe word square merupakan model pembelajaran yang mampu mengulang pembelajaran dengan suatu permainan. Dimana pembelajaran tersebut ditujukan agar siswa dapat mengingat dan memahami pembelajaran yang telah dilaksanakan. (*)