Meningkatkan Hasil Belajar IPA melalui Penggunaan Pembelajaran Kooperatif

Oleh: Zumaroh, S.Pd
Guru SDN 01 Ketapang, Kec. Ulujami, Kab. Pemalang

ILMU pengetahuan alam (IPA) merupakan salah satu pelajaran essensial di tingkat sekolah dasar. Ilmu ini sudah mulai diajarkan dari kelas 1 sampai kelas 6, dan merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di ujian nasional (UN). Sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi para guru untuk mengajarkan kepada para siswa. Agar dapat menguasai mata pelajaran ini dengan lebih maksimal, ada beberapa metode dan pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa mendapat hasil yang maksimal pula.

Mata pelajaran IPA berfungsi untuk memberikan pengetahuan tentang lingkungan alam, pengembangan keterampilan, wawasan, dan kesadaran teknologi dalam kaitannya dengan pemanfaatan bagi kehidupan sehari-hari (Depdikbud, 1994:129). IPA merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat esensial. Sehingga setiap siswa dituntut untuk dapat menguasainya baik.

Hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku seseorang baik dari segi pengatahuan ataupun sikap setelah melakukan proses pembelajaran. Baik pembelajaran formal maupun non-formal. Menurut Rusmono (2017), hasil belajar adalah
perubahan perilaku individu yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan pisikomotorik. Perubahan perilaku tersebut diperoleh setelah siswa menyelesaikan program pembelajaran melalui interaksi dengan berbagai sumber belajar dan lingkungan belajar. Hasil belajar merupakan perilaku yang dapat diamati dan menunjukan kemampuan yang dimiliki seseorang.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Sebenarnya, model pembelajaran memiliki arti yang sama dengan pendekatan, strategi, atau metode pembelajaran. Saat ini telah banyak dikembangkan berbagai macam model pembelajaran, dari yang sederhana sampai model yang agak kompleks dan rumit, karena memerlukan banyak alat bantu dalam penerapannya.

Hary Kurniadi (2010:1) menyatakan bahwa model pembelajaran example non example merupakan model pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media pembelajaran. Penggunaan media gambar ini disusun dan dirancang agar anak dapat menganalisis gambar tersebut menjadi sebuah bentuk diskripsi singkat mengenai apa yang ada di dalam gambar.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Langkah-langkah yang dilakukan dalam model example non example di antaranya adalah sebagai berikut. Pertama, guru mempersiapkan berbagai gambar yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Berbagai gambar yang hendak dipakai dalam pembelajaran hendaknya adalah gambar yang relevan dengan materi ajar yang akan dibahas guru.
Kedua, guru menyajikan atau menampilkan gambar dengan cara menempelkan gambar-gambar tersebut di papan ataupun dapat menayangkannya lewat LCD atau in focus dan di alat pendukung lainnya.

Ketiga, guru memberikan arahan dan kesempatan kepada siswa untuk mengamati dan menganalisa gambar-gambar yang telah disajikan. Dalam tahap ini, para siswa diberikan kesempatan untuk melihat, menelaah, dan mengamati gambar yang telah ditampilkan guru. Disini guru diperkenankan memberikan deskripsi dari gambar-gambar tersebut. Keempat, siswa mencatat hasil analisa dari gambar setelah melakukan diskusi kelompok yang terdiri dari dua sampai tiga siswa. Hasil analisa sebaiknya dicatat dalam sebuah kertas yang disediakan oleh guru.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Kelima, tiap kelompok diberi kesempatan untuk membacakan hasil diskusinya. Keenam, mulai dari komentar ataupun hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Ketujuh, guru bersama para siswa menyimpulkan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Siswa lebih termotivasi dan bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran karena model pembelajaran examples non examples banyak ditampilkan contoh pembelajaran berupa gambar-gambar yang ditayangkan. Sehingga dapat dapat menarik minat para siswa dalam proses pembelajaran. Media gambar dapat membangkitkan daya imajinasi serta daya ingat yang lebih baik dibandingkan hanya berupa tulisan ataupun mengandalkan pendengaran secara langsung. Dengan media gambar, para siswa menjadi bersemangat dalam belajar. Sehingga menyenangi pelajaran yang disampaikan dan pada akhirnya akan memberikan hasil belajar yang baik pula. (*)