Tingkatkan Keterampilan Berfikir dan Hasil Belajar PPkn dengan Project Citizen

Oleh: Dra. Fatatus Sakdiyah, M.Pd.
Guru PPKn SMA N 1 Demak

PENDIDIKAN kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah yang mempunyai kontribusi penting dalam membentuk dan mewujudkan warga negara yang cerdas seperti diamanatkan dalam UUD 1945. Yaitu smart and good citizenship. Dalam standar isi (Permen No. 22 Tahun 2006) dan Standar Kompetensi Lulusan (Permen No. 23 Tahun 2006) dijelaskan bahwa pendidikan kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, serta berkarakter.

Selamat Idulfitri 2024

Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Khususnya pada mata pelajaran pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan (PPKn). Sebagian besar siswa tidak menghubungkan apa yang telah mereka pelajari dengan cara aplikasi pengetahuan tersebut di dalam kehidupannya saat ini dan dikemudian hari. Artinya, pembelajaran tidak memberikan makna bagi siswa dalam memecahkan permasalahan kewarganegaraan yang terjadi dalam kehidupan (Budimansyah dan Komalasari, 2008).

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Padahal kalau dicermati lebih mendalam, objek kajian pendidikan kewarganegaraan adalah masyarakat dengan segala dinamikanya yang seharusnya menarik dan menantang untuk dipelajari. PPKn di era reformasi misalnya, harus dapat melakukan pergeseran paradigma pembelajaraannya ke arah paradigma baru yang menunjukan pendidikan kewarganegaraan di era Indonesia baru. Salah satunya dengan project citizen yang di dalamnya terdapat portofolio hasil belajar siswa. Project citizen merupakan salah satu inovasi model pembelajaran yang dapat meningkatkan berpikir kritis siswa.

Budimansyah (2009:33) menetapkan lima langkah pembelajaran project citizen sebagai berikut. Pertama, mengidentifikasi masalah. Pada tahap ini guru membagi kelompok kelas kedalam kelompok kecil (empat sampai lima orang siswa). Setiap kelompok mengambil undian untuk menentukan pokok bahasan apa yang harus dikaji. Berikutnya kelompok mencari dan mendiskusikan masalah-masalah yang sesuai dengan pokok bahasan yang diperoleh dalam undian. Proses diskusi kelompok kecil di kelas ini harus melanjutkannya sebagai pekerjaan rumah, berupa tugas wawancara dengan orang yang dipandang memahami masalah yang sedang dikaji. Di samping itu kelompok kecil ini juga harus mencari informasi-informasi dari media cetak ataupun elektronik.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Kedua, memilih masalah sebagai bahan kajian kelas. Ketiga, masing-masing kelompok kecil bermusyawarah dan berdiskusi serta mengidentifikasi sumber-sumber informasi yang akan memberikan banyak informasi sesuai dengan masalah yang akan dikaji. Setelah menentukan sumber-sumber informasi, kelompok membagi ke dalam tim-tim peneliti. Tiap tim hendaknya mengumpulkan informasi dari salah satu sumber yang telah di identifikasi.

Keempat, mengembangkan portofolio kelas yang meliputi dua bagian. Yaitu bagian penayangan, adalah portofolio yang akan ditayangkan sebagai bahan presentasi kelas pada saat show-case. Kemudian bagian dokumentasi, yaitu portofolio yang disimpan pada sebuah map (binder) yang berisi data dan informasi lengkap setiap kelompok portofolio. Di samping itu, masing-masing kelompok juga harus dibagi menjadi empat kelompok yang lebih kecil lagi.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Jika dalam kelompok itu hanya terdiri dari empat atau kurang dari empat siswa, maka bisa dibagi menjadi kelompok/orang pertama, yang bertanggung jawab untuk menjelaskan atau mengidentifikasi masalah. Kelompok/orang kedua, bertanggung jawab untuk mengkaji kebijakan alternatif untuk mengatasi masalah. Selanjutnya kelompok orang ketiga, bertanggung jawab mengusulkan kebijakan publik yang telah disepakati untuk memecahkan masalah. Sedangkan kelompok/orang keempat yang bertanggung jawab dalam hal untuk membuat rencana tindakan.

Kelima, menyajikan portofolio. Setelah portofolio kelas selesai, kelas dapat menyajikan dalam kegiatan show-case (gelar kasus). Kegiatan ini akan memberikan pengalaman yang sangat berharga kepada siswa dalam hal menyajikan gagasan-gagasan kepada orang lain. Keenam, merefleksikan pengalaman belajar. (*)