Membangun Well-Being melalui PSE

Oleh: Titik Idawati, S.Pd., M.Pd
Guru SD N Rejosari 2, Kec. Mijen, Kab. Demak

PENDIDIK adalah  penuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak. Tugas pendidik sebagai pemimpin pembelajaran adalah menumbuhkan motivasi siswa. Kita merencanakan  secara sadar pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan murid-murid untuk mewujudkan kekuatan (potensinya).

Selamat Idulfitri 2024

Well-being adalah kondisi individu yang memiliki sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan da mengatur tingkah lakunya sendiri. Kemudian dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup. Lalu membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya.

Noble and McGrath (2016) menyebukan bahwa well-being murid yang optimal adalah keadaan murid yang berkelanjutan. Ditandai dengan; sikap dan suasana hati yang secara umum positif, relasi yang positif dengan sesama murid dan guru, resilienasi, optimalisasi diri. Selain itu memiliki tingkat kepuasan diri yang tinggi berkaitan dengan pengalaman belajar mereka di sekolah.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Pembelajaran sosial dan emosional (PSE) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas yang ada di sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek social dan emosiona. Agar dapat mengalami hal-hal sebagai berikut.

Pertama, memahami, menghayati, dan mengelola emosi (kesadaran diri). Kedua, menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri). Ketiga, merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial). Yaitu kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain.

Keempat, membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan berelasi). Yaitu kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan-hubungan yang sehat dan suportif. Kelima, membuat keputusan yang bertanggung jawab. Yakni kemampuan untuk mengambil pilihan-pilihan membangun yang berdasar atas kepedulian. Lalu kapasitas dalam mempertimbangkan standar-standar etis dan rasa aman. Selain itu untuk mengevaluasi manfaat dan konsekuensi dari bermacam-macam tindakan dan perilaku untuk kesejahteraan psikologis (well-being) diri sendiri, masyarakat, dan kelompok.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Jika kita analisis lebih lanjut,  PSE berhubungan erat dengan  enam dimensi  Profil Pelajar Pancasila.  Sebagai contoh,  ketika seorang murid perlu mengeluarkan ide yang baru dan orisinil untuk memecahkan masalah, diperlukan juga kemampuan bernalar kritis  untuk melihat permasalahan yang ada. Dalam situasi tersebut, murid tersebut menerapkan kesadaran diri dan manajemen diri. Solusi yang dihasilkan juga perlu mempertimbangkan akhlak kepada makhluk hidup lain yang dapat dimunculkan dari dimensi beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia.

Integrasi PSE dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bisa kita terapkan dalam pembukaan hangat. Antara lain dengan memberikan kesempatan pada  murid untuk berbicara, mendengarkan aktif, memungkinkan interaksi. Berikutnya menciptakan rasa memiliki, serta dapat menumbuhkan salah satu kompetensi sosial dan emosional. Kegiatan inti antara lain dilakukan melalui diskusi akademik, pembelajaran kooperatif,  pembelajaran berbasis proyekserta refleksi dan penilaian diri. Berikutnya  pemberian suara dan pilihan, dan penutupan optimistik. Antara lain dengan refleksi, apresiasi, dan cara-cara positif lainnya untuk memperkuat pembelajaran.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

PSE akan dapat menghasilkan murid-murid yang berkarakter, disiplin, santun, jujur, peduli, responsif, proaktif. Selanjutnya mendorong anak untuk memiliki rasa ingin tahu tentang ilmu pengetahuan sosial, budaya, dan humaniora. Semua ini selaras dengan standar kompetensi lulusan dan standar isi dalam standar nasional pendidikan.

Jika PSE ini kita terapkan di sekolah, maka akan tercipta lingkungan belajar yang lebih positif. Kemudian terjadi peningkatan sikap positif dan toleransi murid terhadap dirinya, orang lain, dan lingkungan sekolah. Selain itu, PSE di kelas terbukti dapat menghasilkan pencapaian akademik yang lebih baik. (*)