Tutor Sebaya Two Stay Two Stray Meningkatkan Partisipasi Peserta Didik

Oleh: Wahyu Utomo, S.Pd
Guru PPKn SMAN 1 Mijen, Kabupaten Demak

TERDAPAT banyak model pembelajaran yang dipakai oleh pendidik dalam pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Salah satu model yang bisa dipakai yaitu model pembelajaran kooperatif two stay two stray (dua tinggal dua tamu). Menurut Huda (2014:20), model yang lebih dikenal dengan istilah TS-TS ini memiliki tujuan agar peserta didik punya rasa tanggung jawab pada kelompoknya.

Selamat Idulfitri 2024

Di sini penulis sebagai guru mata pelajaran PPKn menerapkan model ini dalam proses pembelajaran. Model two stay two stray merupkan teknik presentasi dari hasil diskusi kelompok dengan membagi ke dalam dua peran besar. Yaitu dua orang bertugas membagikan hasil diskusi kelompoknya dan dua orang lainnya bertugas mendengarkan hasil diskusi dari kelompok lainnya.

Banyak kelebihan bila pendidik menggunakan model pembelajaran TS-TS ini. Di antaranya belajar peserta didik lebih bermakna, menekankan pada keaktifan berpikir. Kemudian memberi kesempatan peserta didik untuk menciptakan kreativitas dalam melakukan komunikasi dengan teman sekelompoknya. Selain itu, peserta didik terbiasa bersikap terbuka pada teman sekelompoknya, dan yang tak kalah pentingnya meningkatkan motivasi belajara dari diri peserta didik.

Dalam pembelajaran PPKn, penulis sebagai pendidik dalam salah satu pokok bahasan materi. Selanjutnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok dengan pembagian tema materi yang berbeda-beda. Hasil dari diskusi tiap kelompok ditulis dikertas plano dan ditempelkan di dinding kelas dengan tiap kelompok membuat stand-stand layaknya acara bazar.

Dalam presentasi hasil diskusi dari masing-masing kelompok, tiap kelompok berbagi tugas. Dua orang sebagai penunggu stand yang bertugas memberi penjelasan pada kelompok lain yang berkunjung secara bergantian tentang hasil diskusi. Kelompok tersebut menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain. Sementara, dua orang lainnya yang tidak menjaga stand berkunjung ke kelompok lainnya untuk menyimak presentasi dan mengajukan pertanyaan pada kelompok yang dikunjungi tersebut.

Setelah tiap kelompok selesai berkunjung ke semua kelompok yang ada, kemudian kembali ke kelompoknya masing-masing. Dua orang yang bertugas visiting ke kelompok lain tadi menjelaskan pada teman-teman sekelompoknya yang bertugas sebagai penjaga stand tentang materi hasil diskusi kelompok lain. Jadi dalam model TS–TS ini ada namanya tutor sebaya dimana teman belajar dari temannya.

Dengan model pembelajaran TS–TS ini terlihat jelas antuisme peserta didik dalam pebelajaran. Terlihat suasana yang ceria dan adanya sosialisasi antar siswa tanpa ada rasa canggung dan malu baik yang mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya maupun yang mendengarkannya. Bahkan banyak pertanyaan yang muncul ditujukan pada teman kelompok lainnya. Hal ini salah satunya karena pembelajaran tidak terfokus pada satu tempat, tapi moving salin berpindah ke stand-stand kelompok lain.

Dalam model pembelajaran ini memang memang memiliki beberapa kekurangan-kekurangan. Di antaranya membutuhkan waktu yang lama, ada kelompok yang kurang pandai dalam diskusi, sehingga hanya sedikit mengeluarkan pendapatnya. Di sinilah peran pendidik diperlukan untuk mengatasi kekurangan-kekurangan dari model TS-TS ini. Yaitu bagaimana tetap bisa menciptakan suasana kondusif yang membuat peserta didik nyaman dalam pembelajaran.

Peran lain guru yang tak kalah pentingnya yaitu terkait dengan pembagian kelompok. Yakni pendidik membagi kelas dalam beberapa kelompok dengan memperhatikan jenis kelamin dan kemampuan akademik dari masing-masing peserta didik. Sehingga terbentuk kelompok yang heterogen. Dimana akan memberi kesempatan untuk saling belajar dan mengajar atau ada yang mengajari dan diajari.

Pada akhir pembelajaran, pendidik melakukan refleksi dengan memberikan kesimpulan secara umum tentang pokok materi yang telah didiskusikan oleh masing- masing kelompok. Lalu meminta umpan balik pada siswa tentang pembelajaran yang telah dilakukan sebagai bahan evaluasi untuk pembelajaran berikutnya. (*)