Pembelajaran IPA Lebih Bermakna dengan Metode Eksperimen

Oleh: Mei Setio Budianto, S.Pd.SD
Guru SD N 03 Asemdoyong, Kec. Taman, Kab. Pemalang

PEMBELAJARAN IPA di SD merupakan proses belajar yang  menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi. Yakni agar siwa menjelajah dan memahami alam sekitar secara alamiah. Sehingga mereka mempunyai pengetahuan, gagasan dan konsep tentang alam sekitar yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah.

Permasalahan yang sering muncul pada siswa disebabkan  pembelajaran terkesan  monoton. Sehingga menimbulkan rasa jenuh dan bosan serta tidak ada pengalaman belajar yang bermakna. Sebagian besar siswa  beranggapan bahwa mata pelajaran IPA merupakan mata pelajaran yang  cukup menguras pikiran karena cakupan materi yang harus mereka catat dan hafalkan. Sehingga siswa kurang termotivasi dalam belajar, sulit untuk memahami, dan merasa bosan dalam menerima pelajaran. Ini dibuktikan dengan hasil belajar siswa kurang memuaskan. Rendahnya hasil belajar IPA disebabkan karena dalam proses pembelajaran, metode yang digunakan guru tidak sesuai dengan materi. Selain itu karena guru cenderung menggunakan metode ceramah dan kurangnya penggunaan media pembelajaran.

Baca juga:  Relevansi Peran Guru PAI Sekolah Dasar di Era Artificial Intelligence

Berdasarkan permasalahan yang terjadi, seorang guru harus bisa memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Di samping itu, merancang media pembelajaran yang relevan dan dapat menggunakannya dalam proses pembelajaran. Untuk mengatasi rendahnya hasil belajar siswa kelas VI SDN 03 Asemdoyong pada materi  Perkembangbiakan Tumbuhan secara Vegetatif Buatan, maka perlu dilakukan  pendekatan  dengan menggunakan metode eksperimen.  Agar  proses pembelajaran lebih bermakna.

Metode eksperimen memberikan fasilitas kegiatan belajar siswa terkait dengan melakukan percobaan. Amalia Sapriati (2014:3.12) mengatakan, metode eskperimen adalah metode yang banyak digunakan dalam mempelajari IPA. Eksperimen yang dilakukan tidak selalu harus dilaksanakan di dalam laboratorium. Tetapi dapat dilakukan pada alam sekitar. Dalam bukunya, Syaiful Bahri (2014:171) berpendapat metode eksperimen adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan.

Baca juga:  Pembelajaran Diferensiasi dengan Bu Pop Meningkatkan Pemahaman Siswa Materi Pubertas

Metode ini diterapkan ketika pembelajaran IPA. Terlebih dulu siswa memperoleh materi pemahaman tentang Perkembangbiakan Tumbuhan secara Vegetatif Buatan. Khususnya cara-cara mencangkok yang baik dan benar. Kemudian menyiapkan alat dan bahan antara lain  tanaman berkayu (jeruk, jambu, mangga, dsb), tanah kompos, cutter, plastik pembungkus, tali, dan lain-lain. Langkah-langkahnya sebagai berikut.

Pertama, pilih cabang yang lurus dengan diameter 2 cm panjang kira-kira 100 cm. Kedua, sayat kulitnya sepanjang 5-8 cm. Kikislah kambium yang melekat pada bagian kayu sampai bersih. Ketiga, bungkus dahan yang sudah dikupas dengan plastik/sabut kelapa dan diikat bagian bawahnya. Keempat, masukan tanah yang sudah dicampur kompos/pupuk kandang pastikan bagian yang dikupas tertutup tanah. Lalu ikat dan jagalah tanah tetap lembab dengan disiram secara teratur. Amati pertumbuhan akar secara berkala sampai akar tumbuh sempurna, kemudian potong pada bagian bawah. Setelah mengadakan eksperimen, siswa melaporkan hasil pengamatanya, kemudian membuat kesimpulan dibawah bimbingan guru.

Baca juga:  Pembelajaran Diferensiasi dengan Bu Pop Meningkatkan Pemahaman Siswa Materi Pubertas

Hasil penerapan pembelajaran dengan menggunakan metode eksperimen, siswa lebih tertarik saat  proses  pembelajaran. Selain itu, siswa menganggap pembelajaran  lebih  mudah dan  merasa  senang karena  melalui  metode tersebut mereka dapat memahami materi secara  nyata. Setelah guru memberikan tugas berupa praktik/percobaan perkembangbiakan tumbuhan secara vegetatif buatan berupa praktik mencangkok, siswa merasa bersemangat. Hal ini terbukti dari  hasil belajar mengalami peningkatan. (*)